Idul Fitri; Spirit Fitrah untuk Membangun Bangsa dan Negara

Esensi Idul Fitri adalah mengembalikan fitrah membangung bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH M Cholil Nafis, PhD  

Ibadah puasa yang telah kita lakukan sebulan lamanya, bukan hanya telah menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan sehingga kita kembali pada fitrah, tetapi juga telah memberi pelajaran yang sangat berharga. Yaitu terbentuknya nilai insan kamil (manusia sempurna) dalam diri kita, baik dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) maupun dalam konteks hubungan manusia dengan manusia (hablum minannas).

Melalui ibadah puasa Allah SWT ingin mengajarkan dan mendidik hamba-hamba-Nya agar memliki kesalehan individu (spiritual) dan sekaligus kesalehan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan atau ditinggalkan salah satunya, karena keduanya satu-kesatuan yang memiliki hubungan fungsional, bagaikan Matahari dengan sinarnya. Keduanya menjadi prasyarat bagi terciptanya kesejahteraan, kebahagiaan dan kedamaian bagi setiap insan. Allah SWT berfirman: "Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia" (QS Ali Imran: 112)

Guna mengimplementasikan keberhasilan ibadah puasa maka pada hari ini kita kembali kepada fitrah. Fitrah adalah asal kejadian, keadaan suci. Fitrah adalah sesuatu yang universal. Karena seperti yang dikatakan Rasulullah SAW bahwa umat manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. (kullu mauludin yuladu 'ala al fitrah). Ini artinya bahwa fitrah adalah sesuatu yang inheren dengan jati diri manusia. Jati diri manusia adalah keberadaan umat manusia sebagai hamba Allah, ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang sekaligus sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi.  

Manusia tercipta dengan keunggulan potensi-potensinya dibanding dengan makhluk lain. Kemampuan manusia mengenal nama-nama (pengetahuan) di muka bumi dengan akalnya inilah yang menjadi alasan kenapa Allah memilihnya sebagai khalifah-Nya dibandingkan makhkuk lain, seperti malaikat maupun iblis. Dalam QS 2: 30-34 menggambarkan betapa malaikat mengakui keunggulan manusia, meskipun sering menumpahkan darah sesama. Sementara iblis menolak untuk hormat kepada manusia karena faktor egonya yang merasa lebih mulia karena diciptakan dari api dibanding manusia yang dari tanah.  

Pada dasarnya manusia memiliki kesamaan dengan binatang yang memiliki instink dan nafsu, hanya saja dengan hati dan akalnya ia akan mampu membangun peradaban unggul dengan kemajuan teknologi yang hebat. Belum lagi dengan kemampuan hatinya yang mampu menembus batas-batas keilahian yang bisa mencapai puncak sebagai insan kamil. Ilmuan Muslim terkenal masa lalu, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya, Madarij as-Salikin, mengatakan, "Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya? Tentu saja tidak. Manusia dan jin diciptakan dengan tujuan besar. Sebagai khalifah di muka bumi tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. 

Manusia selain wajib beribadah, juga karena bumi ini luas dan manusia dikaruniai akal budi yang hebat, maka manusia harus pula menjalankan tugas-tugas khalifah sebagai berikut:

Pertama, melestarikan bumi. Memelihara atau melestarikan bumi dapat dipahami dalam arti luas, termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan hati maka harus bisa memastikan kenyamanan lingkungan dengan menjaga keseimbangan hidup, menjunjung tinggi moralitas atas dasar nilai-nilai ketuhanan. Jadi jelas sekali apa tugas-tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Selain beribadah kepada Allah, juga memaksimalkan peran akal budinya untuk membangun peradaban unggul, bermartabat, dengan menjunjung tinggi akhlak mulia. 

Kedua, memakmurkan bumi. Manusia memiliki kewajiban kolektif yang dibebankan Allah kepadanya. Manusia diberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi kekayaan bumi untuk kemanfaatan sebanyak-banyaknya untuk umat manusia dan makhkuk lain. Hanya saja, tugas eksplorasi ini harus dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, dilakukan dan dinikmati secara adil dan merata. Tentu harus dilakukan dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu, tanpa ada kehancuran yang massif akibat nafsu angkara murka.

Tugas kekhalifahan di muka bumi harus berorientasi kepada kemaslahatan umum dan kemajuan umat. Maka harus tertanam dalam diri Muslim yang pada hari ini telah kembali fitrah untuk mengutamakan kemaslahatan yang lebih luas dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat. Maka dalam menjalankan kehidupan harus mempraktikkan prinsip-prinsip syura (musyawarah), tawassuthiy (pola pikir moderat), ishlahiy (reformatif), tathawwuri (dinamis), dan manhaji (metodologis) yang senantiasa bersikap tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), 'adalah (adil), musawah (egaliter), dan hikmah (bijaksana). 



Sumber: Republika.co.id
loading...