Lapis-Lapis Kebodohan

Kisah ini memberikan ibrah kepada kita semua bahwa terhadap perintah Allah dan Rasul-

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi

Tak seperti biasa, pagi itu di tengah Bani Israil ada orang tua terbunuh. Jasadnya tergolek di persimpangan jalan yang memisahkan sekaligus menghubungkan tempat tinggal kabilah-kabilah Bani Israil. Tak lama kemudian, orang pun ramai berkumpul, saling tuduh, dan akhirnya terjadi pertengkaran hebat. Keadaan buntu, semua merasa tuduhannya benar sehingga pertengkaran kian berkecamuk.

Hingga akhirnya ada yang mengatakan, "Mengapa kalian bertengkar sementara di antara kita ada nabi Allah (Musa AS). Apakah tidak sebaiknya kalian menemuinya?" Nabi Musa pun merespons dan mengatakan, "Dengan nama Allah aku meminta kepada siapa pun yang mengetahui tentang perkara orang yang terbunuh ini, agar memberitahukannya kepada kami." Namun, tak seorang pun menjawab

Kemudian ada yang berkata, "Tanyakan kepada Rabbmu tentang persoalan ini." Nabi Musa pun bermunajat kepada Allah meminta petunjuk mengenai hal tersebut.

Tidak lama kemudian Nabi Musa menemui kaumnya yang berselisih itu seraya berkata, "Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina." Namun, tak dinyana. Bukan menaati, Bani Israil itu malah membantah.

"Apakah engkau (Musa) akan menjadikan kami sebagai ejekan?" Nabi Musa pun menjawab, "Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh." (QS al-Baqarah [2]: 67).

Bani Israil pun kembali menuntut Nabi Musa mengenai sapi betina itu, mulai dari umur, warna, hingga keadaannya, apakah telah dipakai membajak atau belum.

Hamid Ahmad Ath-Thahir dalam bukunya Kisah-kisah dalam Al-Qur'an memberikan pendapatnya, apa yang dilakukan Bani Israil terhadap Nabi Musa AS adalah wujud kebodohan yang luar biasa. "Apa coba manfaat usia dan warna? Apa manfaat penjelasan tentang cici-ciri sapi betina yang diperintahkan untuk mereka sembelih? Manfaat itu tersembunyi di balik hati yang tertutup lapis-lapis kebodohan hingga menghalangi hati melihat kebe naran."

Lalu, dapatlah sapi betina yang dimaksudkan, akhirnya disembelih. Atas perintah Allah mereka memukul orang yang terbunuh itu dengan sebagian dari tulang atau daging sapi betina itu. Allah pun menghidupkan orang itu, ia berdiri dengan urat-urat leher mengeluarkan darah.

Nabi Musa bertanya, "Siapa yang telah membunuhmu?" Pria tua yang terbunuh itu menjawab, "Aku dibunuh keponakanku, ia melakukan itu untuk mewarisi hartaku." Setelah itu, ia kembali mati.

Mukjizat yang amat mengagumkan telah Allah perlihatkan kepada Bani Israil. Namun, karena hati mereka yang terhijab kegelapan, kebodohan dalam dirinya berlapis-lapis. Setelah peristiwa itu, bukannya beriman kepada Allah dan Nabi Musa, hati mereka malah semakin keras bahkan lebih keras dari batu (QS al-Baqarah: 74).

Kisah ini memberikan ibrah kepada kita semua bahwa terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, hendaknya kita tidak banyak bertanya dengan maskud menunda apalagi menolak. Namun, segeralah kerjakan dan wujudkan dengan sebaik-baiknya. 



Sumber: Republika.co.id
loading...