Mengapa Kita Tak Boleh Menghina Orang Lain?

SEJAK saya kecil dulu, para guru dan tetua kampung sering mengajarkan agar tidak mudah menghina orang lain. Alasan utamanya ada dua: pertama adalah siapa tahu nantinya orang yang dihina itu berubah perilaku menjadi manusia mulia; kedua adalah siapa tahu orang yang dihina itu memiliki simpanan amal kebaikan yang disembunyikan, yang hanya dia dan Allah yang mengetahuinya.

Adalah fakta bahwa ada banyak orang yang berupaya menampilkan kebaikannya dan kelebihannya di hadapan orang banyak dan menyembunyikan kejelekan dan kekurangannya sedemikian rupa. Manusia semacam ini disebut terjangkit penyakit jiwa yang disebut eksibisionis. Ada banyak orang yang tertipu dengan penampilannya di depan publik.

Sebagian orang ada yang lebih suka "menampilkan" kekurangannya dan menyembunyikan kebaikannya. Saya bertemu dengan beberapa orang tipe ini. Tiap pengajian orang ini selalu duduk di belakang dan sering kali hadir paling akhir. Banyak orang yang membicarakan beliau dan mencibir. Saya bersyukur akhirnya saya tahu bahwa beliaulah pendana pengajian-pengajian yang diadakan oleh para orang miskin. Beliau sendiri tidak tampak sebagai orang kaya.

Pernah juga saya bertemu dengan seorang yang dihina dan difitnah habis-habisan sementara beliau hanya tersenyum dan terus berbicang tentang ummat. Saat saya bertanya mengapa orang-orang banyak mencibir dan menghinanya, beliau menjawab: "Guru saya bertanya mana yang paling saya suka antara jalan hidup dipuja-puja dan jalan hidup dihina-hina, saya memilih yang kedua. Yang penting saya tak melakukan hal hina di hadapan Allah."

Sungguh mulia dan hina yang hakiki itu hanya Allah yang tahu. Karenanya, jangan senang-senang menilai jelek orang lain. Orang yang rajin sebar uang belum tentu orang baik, bisa jadi itu memang uangnya rakyat yang dikorupsinya yang dibagi-bagikan lagi demi membeli suara.

Orang yang melempar sekoper uang di pasar dan kemudian melarikan diri itu jangan dikejar dan diteriaki sebagai copet. Karena ternyata setelah berhasil menghilang dari pasar dia bersujud di masjid sambil berkata: "Ya Allah biarlah mereka menyebut dan menuduhku sebagai copet, yang penting Engkau tahu bahwa semua kulakukan hanya demi Engkau, bukan demi lainnya.

Nah, unik bukan? Masih mau menghina dan menilai jelek orang lain? Maafkan saya jika saya salah menilai para penjenengan ya.Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...