Mengenal Razia Sultana, Penguasa Kesultanan Delhi

Terpilihanya Razia Sultana menjadi pemimpin sempat menjadi perdebatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Boleh jadi tak banyak orang yang mengenal nama Radiyya binti Iltutmish. Lain halnya dengan Razia Sultana. Banyak orang mengenal riwayatnya dengan baik.

Sejatinya, Razia Sultana merupakan nama lain dari Radiyya binti Iltutmish. Ia adalah Muslimah yang pernah menguasai takhta Kesultanan Delhi di India. Razia Sultana yang dikenal juga sebagai Raziya al-Din serta nama kehormatannya, Jalaluddin Raziya, lahir pada 1205. Ia adalah keturunan dari seorang pemimpin Muslim asal Turki, Shamsuddin Iltutmish.

Terpilihnya Razia sebagai pemimpin bermula ketika pendiri Kesul tanan Delhi Qutbuddin Aibiek meninggal dunia setelah menja lankan pemerintahan selama empat tahun. Sepeninggal Qutbuddin, sang anak, Aram Shah yang kemudian menggantikan Qut buddin tak mampu mem per tahankan posi sinya sebagai pe mimpin hingga akhir nya takhta Kesultanan Delhi diambil alih oleh saudara iparnya, Shamsuddin Iltutmish.

Bertakhta selama seperempat abad sejak 1211, Shamsuddin mampu menunjukkan keahliannya dalam memimpin Kesultanan Delhi. Didukung oleh pasukan elite Turki, Chihalgani Umara, Shamsuddin berhasil memperluas daerah kekuasaan Kesultanan Delhi mulai dari Khyber Pass yang membentang di sepanjang perbatasan Afghanistan-Pakistan hingga wilayah timur Teluk Benggala.

Shamsuddin berhasil menorehkan reputasi yang sangat gemilang selama memerintah Kesultanan Delhi. Ia pun dikenal sebagai pemimpin yang berani, bijaksana, serta murah hati kepada siapa saja. Selama masa kepemimpinannya, Kesultanan Delhi berkontribusi besar dalam banyak bidang, mulai dari keagamaan, ilmiah, ekonomi, hingga kesusastraan.

Karena kepemimpinannya yang gemilang, Shamsuddin di pengujung pemerinta han nya, pada 1229, dianugerahi gelar dan jubah kehormatan dari Khalifah Abbasiyah di Baghdad.

Seabad kemudian, reputasi Shamsuddin dalam memimpin tertuang dalam catatan perjalanan penjelajah Muslim ternama asal Maroko, Ibnu Batutah. Dalam catatan tersebut, Ibnu Batutah menyebut, Shamsuddin dikenang karena karakternya yang sangat baik dan saleh. Ibnu Batutah juga menulis, sikap adil Shamsuddin ditandai dengan jubahnya yang berwarna merah.

Singkat cerita, Shamsuddin menyadari ia tidak akan selamanya memimpin Kesul tanan Delhi. Jika ia wafat nanti, maka akan membuka jalan bagi kedua putranya, Firuz dan Bahram untuk maju menggantikan posisinya sebagai pemimpin Kesultanan Delhi. Namun, Shamsuddin sadar betul bahwa kedua putranya tidak memiliki kapabilitas untuk menjadi pemimpin.

Tak mau ambil risiko, Shamsuddin pun mempersiapkan rencana cadangan. Ia menunjuk dan mewariskan Kesultanan Delhi kepada anak tertuanya yang dikenal sangat disiplin yaitu Radiyya binti Iltutmish alias Razia Sultana. Keputusan ini sangat kon troversial, mengingat pada saat itu budaya patriarki masih sangat kental sehingga mengangkat pemimpin wanita dianggap melanggar budaya.



Sumber: Republika.co.id
loading...