Mengenal Revolusi Ziryab

Dia tidak hanya mampu merevolusi musik, tapi juga bidang-bidang lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Pada abad pertengahan ketika Islam menikmati masa-masa gemilang, Muslim tak hanya menorehkan prestasi di bidang sains. Puncak-puncak kejayaan itu juga mengalir deras ke bidang lainnya, seperti kesenian dan arsitektur.

Sebut saja misalnya Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qanawi atau yang familiar dipanggil Jalaludin Rumi. Beliau merupakan salah satu sastrawan terkemuka di kalangan Islam pada abad pertengahan. Hingga kini, karya-karyanya masih diakui dan dinikmati. Salah satu karya monumentalnya adalah al-Masnawi.

Tokoh cemerlang lainnya di abad keemasan itu adalah Abul-Hasan Ali bin Nafi. Dia adalah salah satu tokoh Islam yang banyak membuat revolusi besar di bidang seni musik. Sosok yang lebih dikenal dengan nama Ziryab ini lahir pada 789 H di Irak. Dia tidak hanya mampu merevolusi musik, namun juga berhasil membuat revolusi di bidang-bidang lain.

Suaranya yang merdu dan kulitnya yang gelap menjadi alasan utama hingga Abul-Hasan Ali bin Nafi, lebih akrab dipanggil Ziryab. Dalam bahasa Arab sehari-hari, ziryab diterjemahkan sebagai ''burung  hitam''. Dia salah satu tokoh Muslim pada masanya yang memberikan banyak perubahan di bidang musik.

Ziryab merupakan murid paling berbakat dari Ishaq al-Mawsili. Ishaq al-Mawsili merupakan musisi terkenal di Baghdad, Irak, pada waktu itu. Berkat bakatnya dan berguru kepada Ishaq al-Mawsili, dia menjadi dekat dengan Khalifah Harun Al-Rasyid, penguasa Dinasti Abbasiyah.

Namun, ketenarannya sebagai ahli musik mencapai puncaknya ketika ia berada di Kordoba, Andalusia. Kala itu, Andalusia berada di bawah pimpinan Khalifah Abdul Rahman II. Dia adalah khalifah keempat Dinasti Umayah di Andalusia.

Ziryab mulai menetap di Kordoba pada 822. Kemampuannya bermusik segera mendapat pengakuan sekaligus penghargaan dari masyarakat Kordoba. Bahkan, berkat kemampuannya bermusik inilah Ziryab terbebas dari status budak yang semula disandangnya. Ia dibebaskan dari status budak karena mampu memukau penguasa Kordoba dengan lagu-lagunya.

Pendek kata, di Kordoba inilah Ziryab mendapat kemakmuran, ketenaran, serta pengakuan atas bakat seninya, sesuatu yang tidak ia dapatkan ketika masih tinggal di Baghdad. Di Kordoba, Ziryab menjadi penghibur di pengadilan dengan gaji 200 emas dinar.

Selain imbalan berbentuk gaji, ia juga mendapatkan hak-hak istimewa lainnya. Kala itu, mendapat gaji sekaligus mendapat hak-hak istimewa sungguh merupakan penghargaan yang sangat tinggi untuk seseorang yang berprofesi sebagai musisi penghibur di pengadilan.

Di Kordoba ini pula ia mendirikan sekolah musik yang mampu bertahan lebih dari 500 tahun setelah kematiannya.



Sumber: Republika.co.id
loading...