Mewaspadai Perpecahan Ukhuwah

Kejadian pada permulaan hijrah ini mengandung pesan perlunya mewaspadai perpecahan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Iqbal

Setelah berada di Madinah, Nabi Muhammad saw berhasil menyatukan suku-suku, terutama suku Aus dan Khazraj, yang sebelumnya selalu berseteru.

Islam telah mengikat mereka dalam sebuah tali persaudaraan, sehingga tidak ada lagi dendam. Mereka menutup luka masa lalu dengan membangun kekuatan sosial di bawah kepemimpinan Nabi saw.

Namun, ketika mereka lupa dalam kegembiraan, tiba-tiba datang seorang Yahudi memanas-manasi mereka. Si Yahudi tersebut membangkitkan kembali masa-masa permusuhan di antara mereka.

Karena baru sembuh dari luka, agitasi Yahudi itu berhasil membangkitkan kembali rasa permusuhan antara kedua suku tersebut. Ibarat bara disiram bensin, api dendam yang telah padam pun kembali menyala dan membakar hati mereka. Akhirnya, terjadilah baku hantam dan tawuran massal antara suku Aus dan Khazraj yang hampir menelan korban jiwa.

Mendengar kejadian itu, Nabi saw segera menuju tempat kejadian perkara dan mendamaikan kedua suku tersebut.

Allah pun menurunkan ayat yang berbunyi, ''Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuhan, lalu Allah menjinakkan hati kalian maka jadilah kalian bersaudara ...'' (QS Ali Imran (3): 103).

***

Peristiwa yang menjadi latar belakang turunnya ayat di atas mengisyaratkan bahwa perpecahan sangat mungkin sekali terjadi akibat adanya "pihak ketiga" yang tidak menginginkan persatuan dan kesatuan yang kokoh di dalam tubuh umat. Karena itu, dengan segala cara, mereka akan senantiasa berusaha menciptakan instabilitas dan mempertajam perbedaan dalam suatu masyarakat.

Kita hendaknya membersihkan hati dan pikiran dari tujuan-tujuan yang tak sejalan dengan cita-cita bersama yang luhur dan beradab.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Al-Turmudzi dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw melarang umatnya mengkhianati, membohongi, dan membiarkan/menafikan saudaranya.

Artinya, kita harus merapatkan barisan dan saling membantu perjuangan demi tegaknya masyarakat adil makmur yang kita cita-citakan. Dengan cara demikianlah kita dapat mengantisipasi setiap perpecahan yang mungkin terjadi.



Sumber: Republika.co.id
loading...