Orang Sederhana dengan Konsep Hidup Sederhana

KAKEK-nenek ini hanya tinggal berdua di gubuk yang jauh dari sebutan sebagai rumah. Dindingnya anyaman bambu lapuk, atapnya daun ilalang kering yang juga sudah berumur. Anak cucunya tak pernah mudik semenjak tinggalkan dusun. Namun kakek nenek ini selalu tersenyum dan bersyukur.

Tahukah mengapa beliau berdua bersyukur? Serta bagaimanakah syukur beliau berdua? Saya bersyukur sempat berkunjung ke "istana" beliau berdua. Saya bisa belajar banyak dari beliau berdua tentang bagaimana menyikapi hidup yang seringkali tak sesuai dengan harapan dan keinginan.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari beliau adalah bahwa jalan hidup itu tak akan berubah karena kita banyak mengeluh. Bahkan, keluhan itu memperburuk jalan kehidupan. Sambil bergurau, kakek yang sudah ompong ini berkelakar penuh makna: "Dulu saya sering mengeluhkan gigi saya yang gugur satu persatu. Ternyata tak pernah tumbuh-tumbuh lagi. Lalu saya hadapi dengan syukur, senyum dan tawa, tiba-tiba ada yang menawari gigi palsu setelah tahu saat saya tertawa bahwa gigiku ompong." Tertawalah maka nikmat akan datang.

Nenek senyum-senyum melihat kakek berseloroh dan tertawa lepas. Saat saya tanya makna senyumnya, beliau berkata: "Bahagiaku sebagai istri adalah saat melihat suamiku tersenyum bahagia." Kakek memegang pundak nenek sambil berkata: "Alhamdulillaah." Damai sekali ada di gubuk sederhana beliau. Jajanan lebaran yang disuguhkan adalah rengginang dan "marning" jagung goreng. Sederhana sekali.

Pelajaran kedua yang saya dapatkan dari beliau adalah berasal dari kalimat lengkap syukur yang diucapkan. Memang beliau selalu bersyukur singkat dengan ucapan "alhamdulillah" saja. Namun saat saya tanya kalimat itu alhamdulillah untuk apa, beliau terdiam sejenak dan berkata: "Alhamdulillah atas segala sesuatu yang tak diberikan Allah kepada kami karena Allah menganggap itu tak baik bagi kami walaupun kami menduganya sebagai sesuatu yang baik." Saya terkejut dengan kalimat ini. Saya terdiam dan kemudian teteskan air mata kagum dan haru.

Kebanyakan kita adalah bersyukur karena mendapatkan sesuatu. Ini biasa kita dengar dan saksikan. Namun sangat jarang ada orang bersyukur karena tidak mendapatkan sesuatu. Sungguh ini pelajaran yang sangat berharga bagi saya dan bagi kita semua. Ku lihat mata nenek berlinang air mata. Lalu saya tanya mengapa.

Nenek berujar: "Anak kami ada tiga, cucu kami ada lima. Semua ada di peratauan. Kata banyak orang, anak kami sukses. Namun sudah 25 tahun 4 bulan saya tidak bertemu mereka dan bahkan tak pernah mendengar suara mereka. Sebagai orang tua, kami kangen dan ingin berjumpa. Namun, mungkin perjumpaan dengan mereka saat ini di dunia ini bukan yang terbaik bagi kami menurut Allah. Saya ikuti saja kehendak Allah. Alhamdulillah. Pasti takdir Allah adalah yang terbaik." Beliau lalu tersenyum.

Sang kakek lalu menggaet tangan saya dan membimbing saya ke pinggir sungai belakang gubuk beliau. Beliau berkata: "Mari kita duduk berdua. Ada yang ingin saya sampaikan secara rahasia sebagai warisan dari saya untukmu. Warisan ini saya dapatkan dari guru kakek saya yang tak dikenal banyak orang karena beliau miskin dan jarang berbicara. Menurut beliau, inilah inti doa, inti kehidupan."

Suasana pinggir sungai sepi sekali. Air sungainya jernih sekali. Sesekali kulihat ikan memandang kami dan kemudian terus menari. Terimakasih kakek atas ilmunya. Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...