Tiga Pakaian Khas Utsmaniyah

Tiap-tiap pakaian memiliki kekhasan yang dipakai pada waktu tertentu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Museum Topkapi. Istanbul, Turki, terdapat lebih dari dua ribu pakaian kesultanan dan asisten rumah tangga istana.

Namun, pakaian khas untuk wanita dan anak-anak sangat minim. Tak hanya pakaian, di museum ini juga terdapat peninggalan aksesori yang digunakan oleh raja dan keluarga mereka.

Tiga ciri khas pakaian pada masa Turki Usmani menggunakan kaftan atau jubah kesultanan, pakaian dinas kemiliteran, dan pakaian kehormatan ketika berada di istana.

Tiap-tiap pakaian memiliki kekhasan yang dipakai pada waktu tertentu. Pejabat istana akan tampak sangat berwibawa ketika mengenakan pakaian tersebut dan tampil di publik.

Kaftan

Kaftan atau jubah pada masa itu terlihat sederhana. Namun, penggunaan kancing disusun secara horizontal. Jumlah baris menunjukkan status pemakai.

Ini adalah pakaian seremonial yang khas dan modis dari pertengahan abad kelima belas hingga pertengahan abad ke-16. Kaftan adalah pakaian berlengan panjang selutut, tanpa kerah dan celana panjang. Ada juga jubah yang dirancang serupa, tetapi dengan lengan lebar yang meruncing tajam dengan kancing pergelangan tangan. Ini merupakan kaftan yang diproduksi pada abad ke-17.

Di atas pakaian-pakaian ini, sultan dan pejabat tinggi mengenakan mantel panjang atau kapaniche. Pakaian ini berpenutup kerah persegi selutut, selebar bahu, untuk mantel peninggalan sultan. Pakaian ini berbulu yang melindungi pemakainya dari hawa dingin. Yang memakai pakaian ini adalah wazir agung, kepala kasim, dan komandan pengawal pribadi.

Pakaian Dinas

Tidak ada perbedaan mencolok antara pakaian seremonial Usmaniyah dari kepala birokrat dan komandan militer. Namun, ada berbagai seragam resimen yang berbeda, yang menjadi lebih berornamen selama berabad-abad.

Ada pakaian dinas berwarna merah. Panjangnya ke bawah mencapai betis kaki. Bagian lengannya tampak panjang menutupi siku. Yang mengenakan pakaian ini biasanya dilengkapi topi merah atau topi kerucut yang tinggi. Biasanya pasukan infanteri yang mengenakan pakaian semacam ini.

Pasukan pemanah mengenakan syalvarat. Bagian celanya dilengkapi dengan rok dan pa kaian luar berlengan. Kepala mengenakan hiasan kerucut asimetris dengan ikat kepala emas lebar.

Pasukan pengadilan mengenakan helm bundar khas da ri tembaga yang disepuh. Sementara resimen elite Janissary menunjukkan dirinya dengan mengenakan keche. Ini adalah pita ber sulam emas yang dikenakan di lengan baju. Simbol itu menunjukkan mereka mengikuti tarekat sufi. ¦

Teolog

Para teolog Muslim mengenakan jubah luar yang cukup banyak. Di antaranya adalah cubbe atau jubah. Pakaian ini panjang ke bawah menutupi mata kaki. Kancingnya terdapat di bagian tengah menutupi area pinggang Para ahli hukum pemula biasanya mengenakan tutup kepala sederhana. Para teolog penting mengenakan urf, turban gulung berbentuk bola yang sangat besar, berwarna putih.

Teolog dan ahli hukum memiliki posisi yang mulia di mata masyarakat. Mereka adalah rujukan dalam persoalan agama. Jika masyarakat menghadapi permasalahan, terutama masalah agama, akan menghadap ulama dan meminta solusi.  



Sumber: Republika.co.id
loading...