Uang untuk Tuhan dan Uang untuk Setan

SAYA berkesempatan mengisi acara di salah satu kantor penegak hukum. Saat duduk di lobby kantor itu, masuklah seorang lelaki yang diapit para penegak hukum ke salah satu ruangan. Ada tanda tanya di benak saya, ada urusan apa gerangan. Seorang pengacara yang menjadi penyambung lidah kepada saya berbisik: "Itu berkasus unik, anak-anaknya mondok semua, tapi bapaknya bolak-balik berkasus pencurian." Kagetlah saya.

Penegak hukum lalu menemui saya dan ngobrol banyak hal. Tiba juga lanjutan kisah pada lelaki yang saya ceritakan itu. Katanya, ketika ditanya mengapa mencuri dan mengapa tega membiayai pendidikan anaknya pondok pesantren memakai uang haram lelaki itu dengan menundukkan kepala menjawab: "Untuk biaya pondok anak saya saya carikan uang dari yang halal, Pak. Yang uang haram hasil curian adalah untuk selain ibadah. Saya juga takut sama Allah." Rupanya, orang itu membagi uangnya menjadi dua: uang untuk Tuhan (agama) dan uang untuk setan (hal yang dilarang agama).

Pening juga saya mencerna cerita ini, Test Potensi Akademik (TPA) yang saya ikuti tak banyak menolong saya dalam melogikakan kisah itu. Bagaimana seorang yang takut kepada Allah itu masih besemangat mencuri. Bagaimana seorang takut kepada Allah berpola pikir bolehnya ada dua sumber keuangan dalam keluarganya, sumber yang halal dan sumber yang halal. Ada yang bisa membantu menjelaskan hal ini kepada saya?

Teringatlah saya pada kasus lain, seseorang yang nama dan pekerjaan serta alamatnya saya rahasiakan, yang memiliki dua kartu ATM utama dalam dompetnya. Saat mentraktir "orang-orang baik nan lurus" pembayarannya selalu memakai ATM sebuah bank syariah dan saat mentraktir keluarganya dan "para pemain kehidupan yang tidak lurus" pembayarannya memakai kartu atm yang lainnya.

Saat ditanya alasannya, dia menjawab: "Yang ada di ATM ini adalah uang halal dari kerja halal, sementara yang ATM yang satunya ini adalah uang tidak jelas asal usulnya." Ada kesan bahwa orang ini agamis sekali dalam satu sisi, tapi pada sisi lain mengapa dia masih suka mengumpulkan sesuatu yang tidak jelas.

Dua kasus di atas seakan merupakan implementasi dari perintah al-Qur'an agar kita tidak boleh mencampurbaurkan antara yang haq dan yang batil. Tapi, apakah orang yang benar-benar beriman itu masih boleh dan suka mengambil sesuatu yang dilarang Allah? Ada semacam paradox dalam keberagamaan.

Paradoks keberagamaan ini juga tampak dalam kasus yang skalanya lebih luas dan lebih fundamental. Sebut saja misalnya tentang klaim agama sebagai ajaran cinta dan kedamaian, mengapa masih ada orang yang tampil dengan identitas serta simbol keagamaan yang senang menghina, mencaci dengan penuh kebencian serta menebarkan teror yang menakutkan?

Lalu dimana letak pesan cinta dan damai setiap agama? Mari kita berpikir jernih untuk menjernihkan kembali keruhnya "air persahabatan dan persaudaraan" di NKRI yang kita cintai bersama. Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...