Zaid bin Tsabit, Sang Pena Rasulullah

Zaid bin Tsabit dianggap sebagai yang paling menonjol di antara penulis Rasulullah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasul meminta Zaid bin Tsabit untuk mempelajari tulisan dan bahasa orang Yahudi. Dia pun menaati perintahnya. Seiring waktu, Zaid menguasai bahasa Ibrani, baik lisan maupun tulisan. Dia mampu menerjemahkan kata-kata Rasulullah ketika ingin berkomunikasi dengan orang Yahudi, baik saat berpidato maupun berbentuk surat.

Begitu juga ketika Yahudi menuliskan surat untuk Nabi, Zaid yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Setelah bahasa Ibrani, Rasul pun memerintahkannya untuk mempelajari bahasa Syria. Dengan tugas ini, Zaid telah melakukan tugas penting sebagai penerjemah Rasul dengan mereka yang tidak bisa berbahasa Arab.

Berkat antusiasme dan keterampilan dia dan mampu melaksanakan tugas selama ini, Nabi menambahkan tugas dan tanggung jawab yang lebih berat. Dia memerintahkan untuk mencatat wahyu Allah dengan tulisan dan merekam dengan hafalannya. Ketika Rasul mendapatkan wahyu, dia memanggil Zaid sambil meminta membawa perkamen, tinta, dan tulang belikat hewan untuk menulis bagian dari Alquran tersebut.

Zaid memang bukan satu-satunya penulis pribadi Rasulullah. Sumber lain mencatat, terdapat 48 orang yang biasa menulis untuknya, tetapi Zaid yang paling menonjol di antara mereka.

Pembukuan Alquran

Zaid menyaksikan bagaimana kondisi Rasulullah ketika menerima wahyu dari malaikat Jibril. Dia dibesarkan bersama ayat-ayat Alquran sehingga mampu memahami dengan baik ketika wahyu Allah turun. Karena pengalamannya itu, dia telah memahami syariah sejak usia dini. Zaid juga sebagai salah satu cendekiawan muda di antara sahabat Rasulullah.

Setelah Rasulullah wafat, Zaid mendapatkan tugas untuk mengotentifikasi Alquran karena banyak penghafal Alquran tewas dalam peperangan. Umar bin Khattab meyakinkan Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran dalam manuskrip. Abu Bakar kemudian memanggil Zaid untuk membahas pengumpulan Alquran.

Abu Bakar yakin pemuda itu cerdas dan terpercaya. Bagi Zaid, mengumpulkan Alquran adalah tugas yang sangat berat. Bahkan, dia membandingkan hal itu dengan menggeser gunung yang dinilainya masih lebih mudah. Meski demikian, dia tetap menerima tugas tersebut.

Zaid mulai mengumpulkan bagian-bagian Alquran yang ditulis di perkamen, tulang belikat, daun pohon kurma, dan ingatan manusia. Dia melaksanakan tugas ini dengan penuh kehati-hatian dan bersungguh-sungguh. Dia menjaga agar tidak ada satu kesalahan pun.

Zaid telah menyelesaikan pekerjaannya sebelum Abu Bakar wafat. Dia membuat satu suhuf Alquran. Sebelum meninggal, dia mewariskan suhuf ini kepada Umar bin Khattab. Kemudian, Abu Hafs memberikan mushaf itu kepada putrinya yang juga istri Rasulullah, Hafsah, yang juga penghafal Alquran.



Sumber: Republika.co.id
loading...