Al-Zubarah, Seperti Bukan Berada di Qatar

al-Zubarah merupakan tempat yang sangat senyap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Melancong ke Doha, Qatar, tak lengkap jika belum menyambangi al-Zubarah. Hanya berjarak se kitar satu jam perjalanan dari Doha, al-Zubarah sangatlah berbeda dari ibu kota Qatar yang modern dan futuristik. Di al-Zubarah, Anda akan merasa seperti berada di dunia lain.

Betapa tidak, al-Zubarah merupakan tempat yang sangat senyap. Yang ada hanyalah padang pasir dan bangunan peninggalan se jarah masa lampau. Namun, justru di sinilah istimewanya al-Zubarah. Bangunan kuno itu merupakan bukti bahwa di masa lampau, yakni pada pertengahan abad ke-18, al-Zubarah ini pernah berjaya sebagai kota yang maju.

Dulu, kota yang diperkirakan dihuni oleh sembilan ribu orang ini merupakan pusat perdagangan, terutama mutiara. Benteng dan bangunan-bangunan di sini juga umumnya di dirikan oleh para pedagang.

Selain benteng dan istana, ada pula masjid, rumah warga, dan lainnya. Karena itu, di tengah kesunyi an nya saat ini, al-Zubarah yang dikenal pula dengan sebutan 'Sand Mound' atau gundukan pasir, menjadi tempat yang menyimpan ke kayaan sejarah tak ternilai.

"Al-Zubarah bukan hanya tempat bagi mutiara-mutiara terbaik di kawasan Teluk, tapi juga contoh luar biasa akan perencanaan tata kota di Semenanjung Arab," ujar arkeolog Alan Walmsley.

Di bagian dasar teluk, tepatnya di sisi te ngah ke selatan, merupakan lumbung mutiara berkualitas tinggi. Di masa lalu, al-Zubarah memanfaatkan hal itu dan menjadikannya sebagai pusat perdagangan mutiara sejak abad pertengahan hingga akhir 1700-an. Para pedagang yang kaya raya pun membangun sebuah kota dengan dinding megah yang menjadi rumah bagi ribuan orang.

Pada awal tahun 1800-an, kota ini dise rang dan sebagian besar dihancurkan tak bersisa. Meski begitu, kisah tentang al-Zubarah tetap menarik untuk diperbincangkan sebagai sebuah contoh keperkasaan ekonomi pesisir zaman praindustri yang bergerak di atas emas putih, mutiara.



Sumber: Republika.co.id
loading...