Bekerja itu Keren

Betapa banyak orang yang kurang beruntung karena tidak bekerja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bekerja, tidak hanya akan mengangkat pelakunya dari kemiskinan, tetapi juga menjadi kebanggaan sekaligus simbol kemandirian. Dengan bekerja, meminjam istilah Bung Karno, maka orang akan berdikari; berdiri di atas kaki sendiri.

Betapa banyak orang yang kurang beruntung karena tidak bekerja alias menganggur. Dan tidak sedikit orang yang kurang bersyukur padahal sudah memiliki pekerjaan hanya karena belum cocok, baik dari sisi jenis pekerjaan maupun gaji yang diperolehnya.

Teladan kita Rasullullah SAW, bukanlah orang yang senang berpangku tangan. Beliau telah bekerja sejak masih kecil dengan menjadi penggembala kambing. Bahkan, ketika berumur 12 tahun telah berbisnis ke Negeri Syam. Hingga mempertemukannya dengan Siti Khadijah, seorang konglomerat yang kemudian menjadi istrinya.

Sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis mengatakan, "Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah SWT."

Bekerja adalah aktivitas yang sangat dinamis yang mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik jasmani maupun rohani. Dalam mencapai tujuan tersebut, manusia berikthiar dengan penuh kesungguhan untuk meraih prestasi yang optimal sebagai wujud pengabdian diri kepada Allah SWT.

Dalam Alquran, terdapat banyak sekali membicarakan akidah atau keimanan yang diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja. Di bagian lain, ayat tentang kerja tersebut dikaitkan dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan reward and punishment di dunia dan akhirat. Di samping itu, Alquran juga mendeskripsikan kerja sebagai suatu etika kerja positif dan negatif.

Dalam Islam, tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya (QS adz- Dzariyat: 56), sekaligus untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah 30). Bekerja dalam Islam memiliki dimensi spiritual yang tinggi, tidak hanya untuk survive of life, tetapi juga merefleksikan kekhalifahan manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Dalam perspektif ini, hakikat dasar manusia dalam bekerja adalah amanat dan kesadaran Ila hiah. Sehingga, dalam hidup dan mati manusia akan dilihat siapa yang (ahsanu amala) paling baik pe ker jaannya (QS al-Mulk: 2). Islam memandang bahwa bekerja adalah kewajiban yang menduduki tingkat kemuliaan yang cukup tinggi. Maka itu, dengan bekerja, manusia dapat meningkatkan harkat dan martabatnya di hadapan Tuhan juga manusia.

Oleh karena itu, bekerja tidak hanya untuk menjadi seseorang sebagai hamba yang taat kepada-Nya, tetapi juga menjadikannya orang yang keren. Sebab, ia telah mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya jika telah berkeluarga. Bekerja dapat dilakukan secara sendiri ataupun bersama-sama. Selain itu, bekerja dapat dilakukan pada orang lain dengan menjadi karyawan atau pegawai dan pada instansi pemerintah menjadi abdi negara. Kita juga dapat bekerja dengan berbisnis atau berdagang. Intinya adalah memiliki penghasilan tanpa harus bergantung pada orang lain.

Dengan bekerja, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, tetapi juga yang tak kalah pentingnya adalah adanya bekal yang memadai untuk beribadah meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Yuk kita bekerja! Wallahualam. 



Sumber: Republika.co.id
loading...