Bersyukur atas Segala Nikmat

Seorang mukmin mesti bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Nanat Fatah Natsir

Seorang sahabat bernama Atha, suatu hari menemui Aisyah RA. Lalu ia bertanya, "Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang menakjubkan dari  Rasulullah SAW?"

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Aisyah menangis. Lalu Aisyah berkata, "Bagaimana tak menakjubkan, pada suatu malam beliau mendatangiku, lalu pergi bersamaku ke tempat tidur dan berselimut hingga kulitku menempel dengan kulitnya.

Kemudian Rasulullah berkata, 'Wahai putri Abu Bakar, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanmu.' Aku (Aisyah) menjawab, 'Saya senang berdekatan dengan Anda. Akan tetapi, saya tidak akan menghalangi keinginan Anda.'

Rasulullah lalu mengambil tempat air dan berwudhu, tanpa menuangkan banyak air.

Nabi SAW pun shalat, lalu menangis hingga air matanya bercucuran membasahi dadanya. Beliau ruku, lalu menangis. Beliau sujud, lalu menangis. Beliau berdiri lagi, lalu menangis. Begitu seterusnya hingga sahabat bernama Bilal datang dan aku mempersilakannya masuk," papar Aisyah.

"'Ya Rasullulah, apa yang membuat Anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang,' tanyaku (Aisyah).

'Tak bolehkah aku menghendaki agar menjadi seorang hamba yang bersyukur?' ungkap Nabi SAW."

Kisah itu tercantum dalam kitab Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah allam al-Ghuyub Fi'ilm at-Ashawwuf karya Imam Ghazali. Di dalamnya, terkandung pesan bahwa manusia harus selalu mensyukuri setiap nikmat yang dianugerahkan Allah SWT.

Pentingnya bersyukur telah dijelaskan dalam surah Ibrahim ayat 17. Allah SWT berfirman, yang artinya, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Sepertinya, kita perlu belajar dari sejarah Kaum Saba'.  Dikisahkan, Kaum Saba' begitu maju peradabannya. Mereka menguasai teknologi yang tertinggi pada zamannya, yakni telah berhasil membangun bendungan Ma'rib. Menurut penulis Yunani, Ma'rib merupakan salah satu kota termaju saat itu (sekarang Yaman) dan memiliki lahan yang subur.

Bendungan Ma'rib mampu mengairi sekitar 9.600 ha lahan subur. Negeri itu pun kaya-raya. Namun, karena mereka tak bersyukur atas nikmat yang begitu melimpah, maka Allah menurunkan banjir besar yang menghancurkan semua kekayaan yang dimiliki penduduk negeri Saba'.  Dalam suatu tafsir dijelaskan, mereka diberi azab karena tak taat kepada seruan nabi utusan Allah.



Sumber: Republika.co.id
loading...