Cerita Pimpinan Universitas al-Azhar tentang Arahan Rasul

Pimpinan Universitas al-Azhar ini ingatkan tentang arahan Rasul SAW untuk tasamuh

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan tentang keutamaan bersikap moderat. Hal ini ditegaskan oleh deputi grand shaikh Universitas al-Azhar (Mesir) Syekh Shaleh Abbas saat berkunjung ke Universitas Islam Assyafiiyyah, Jatiwaringin, Bekasi, Senin (29/7).

Dia lantas menuturkan suatu hadits panjang tentang tiga orang pria yang bertamu ke rumah Nabi SAW. Ketiganya hendak mencari tahu bagaimana pembawa risalah Islam itu melakukan ibadah sehari-hari. Hadits itu diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu anhu.

"Ada tiga orang yang mendatangi rumah istri-istri Nabi SAW untuk mencari tahu tentang ibadah beliau SAW. Setelah mereka diberi tahu, maka mereka berkata, 'Kita ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Nabi SAW. Beliau SAW telah diampuni atas semua dosa, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.'

Salah seorang dari mereka lalu berujar, 'Saya akan shalat malam selama-lamanya.' Kemudian, seorang yang lain berkata, 'Saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.' Kemudian, seorang yang lain berkata, 'Saya akan menjauhi perempuan lalu saya tidak akan menikah selama-lamanya.'

Mengetahui perkataan mereka, Rasulullah SAW mendatangi mereka dan berkata, 'Benarkah kalian berkata demikian? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Namun, aku tetap berpuasa dan juga berbuka; aku shalat malam dan juga tidur; dan aku menikah dengan perempuan. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tak termasuk golonganku.'"

"Ini adalah contoh moderasi. Maka mereka yang mengatakan tidak pernah berbuka atau selalu berpuasa dan tidak tidur agar selalu tetap shalat malam, serta tidak pernah mendekati isterinya, itulah yang disebut ekstrem dalam memahami ajaran Islam," kata Syekh Shaleh Abbas, menerangkan maksud hadits tersebut, Senin (29/7).

Petinggi kampus al-Azhar Kairo itu meneruskan, seorang Muslim hendaknya memiliki sifat tasamuh, yakni tenggang rasa atau toleran. "Seorang Muslim yang introspeksi diri tentang keimanan yang ada pada diri dan sejauh mana melakukan konsekuensi dari keimanannya itu," ujarnya.

Menurut dia, salah satu ciri ekstremisme ialah gemar menilai atau bahkan menghakimi amal, perbuatan, serta citra keimanan orang lain. Namun, pada saat yang sama, seorang yang ekstrem berupaya mencari-cari cela pihak lain. "Kemudian, menuduhnya bahwa mereka menyimpang, bahkan mereka merupakan ahli neraka, nauzubillah," ucap dia.

Alquran telah menjelaskan, seorang Muslim yang disebut ummatan wasathan. Syekh Abbas mengingatkan, seorang Muslim akan menjadi saksi terhadap umat lain dan Rasulullah juga akan menjadi saksi bagi semua Muslimin.



Sumber: Republika.co.id
loading...