Makna Kejujuran

Kejujuran diwujudkan melalui sikap mental, perbuatan dan perkataan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: A Ilyas Ismail

Para dai dan orang bijak selalu menasihati kita agar selalu bersikap jujur. Nasihat ini terasa amat penting, bukan saja karena kita sering tidak jujur dalam bekerja dan bertutur kata, tetapi juga karena kejujuran itu sendiri merupakan salah satu ajaran Islam yang akan mengantar kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam Alquran disebutkan bahwa orang-orang yang jujur akan memperoleh nikmat besar dan akan dijamu oleh Allah swt bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh (An-Nisa': 69). Untuk itu, Allah swt menyuruh kita agar selalu bersama orang-orang yang jujur itu (At-Taubah: 119).

Sikap jujur atau disebut juga sikap yang benar (al-shidq), menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziah, melibatkan tiga aspek dalam diri kita, yaitu perkataan (aqwal), perbuatan (af'al), dan sikap mental (ahwal). Setiap aspek di atas memiliki ukuran dan kriterianya sendiri.

Dalam kaitan ini, jujur atau benar dalam perkataan berarti adanya persesuaian perkataan dengan hati nurani dan dengan kenyataan atau realita. Jujur dalam bekerja dan berbuat berarti koherensi dan konsistensi antara perbuatan dan perintah Allah swt serta Sunnah Rasul. Adapun jujur dalam sikap mental berarti komitmen dan kesetiaan seorang dalam bekerja dan beribadah kepada Allah swt. (Kitab Madarij al-Salikin, 2/270).

Kejujuran seorang, lanjut Ibn al-Qayyim, harus dilihat dari intensitas dan kesungguhan orang yang bersangkutan dalam menjaga dan memelihara ketiga aspek di atas.

Hanya karena kesungguhannya dalam menjaga ketiganya, maka Nabi Ibrahim a.s., kata Ibn al-Qayyim, disebut dan diabadikan oleh Allah swt dalam Alquran sebagai yang siddiq. Begitu pula Nabi Idris a.s. (Maryam: 56).

Dari penjelasan di atas, nyatalah bahwa perkataan Arab as-shidq, tak hanya berarti jujur, tapi juga berarti benar, sungguh-sungguh, konsisten, teguh, dan tepat. Dalam Alquran, selain disebutkan ada perkataan yang benar (lisan al-shidq), juga disebutkan beberapa hal lain yang diberi atribut serupa (al-sidq).

Misalnya, jalan keluar dan jalan masuk yang benar (makhraj al-shidg dan madzkhal al-shidq), langkah atau sepak terjang yang benar dan tepat (qadam al-shidq), dan tempat duduk atau kediaman yang benar dan sejati (maq'ad al-shidq).

Yang dimaksud jalan keluar dan jalan masuk yang benar adalah komitmen seorang untuk selalu berjuang di jalan Allah, seperti keluarnya (hijrahnya) Nabi Muhammad saw dari Mekah menuju Medinah. Sedang maksud langkah dan sepak terjang yang tepat adalah kerja dan amal saleh. Sementara yang dimaksud dengan tempat duduk atau kediaman yang benar dan sejati adalah sorga.

Ini semua memberi gambaran kepada kita bahwa ada korelasi positif antara komitmen yang benar dan perilaku yang benar dengan kesuksesan dan kebahagiaan seorang. Inilah sesungguhnya makna dari sabda Nabi dalam hadis shahih (Bukhari Muslim) yang menyatakan bahwa kejujuran atau kebenaran (al-shidq) akan membawa manusia kepada kebajikan, sedang kebajikan akan mengantar dan menuntunnya menuju sorga.



Sumber: Republika.co.id
loading...