Mengapa Manuskrip Karya Ulama Nusantara tak Cantumkan Nama?

Ada beberapa asumsi tentang tiadanya nama dalam manuskrip ulama Nusantara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Intelektual dan ulama Nusantara sejak masa silam gemar menghasilkan karya tulis, baik itu berkaitan dengan ilmu Alquran, fikih, tauhid, tasawuf, hadis, pertanian, dan lain sebagainya. Banyak karya mereka yang kini menjadi beragam manuskrip dari abad ke-17 hingga abad ke-19.

Sebagai contoh, pelbagai manuskrip yang berasal dari kalangan ulama klasik Cirebon, Jawa Barat. Hampir semua manuskrip tersebut tidak mencantumkan nama penulisnya.

Sejarawan IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tendi menjelaskan, ada asumsi yang berkembang di kalangan ahli manuskrip bahwa kaum ulama dan intelektual Nusantara pada zaman dahulu menjadikan kegiatan menulis sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.

Pemerintah kolonial Belanda selalu berupaya menjaga stabilitas kekuasaannya atas Nusantara. Penguasa asal Eropa itu juga menjalankan politik pengawasan terhadap produk-produk tulisan tokoh lokal. Karena itu, kalangan intelektual atau ulama Nusantara yang bisa menulis kemudian bersiasat. Dengan alasan itulah, hampir semua manuskrip yang berasal dari abad ke-17 sampai ke-19 tidak mencantumkan nama penulisnya karena politik ancaman Belanda.

"Jadi, sebagai aksara yang digunakan penguasa yakni aksara Latin saat itu adalah aksara yang dominan, meski hanya sedikit pribumi yang menguasainya. Namun, tetap digunakan sebagai aksara resmi saat itu," kata Tendi saat bercerita kepada Republika.co.id, Senin (29/7).

Ulama di Cirebon pada masa itu tak jauh berbeda daripada umumnya agamawan lokal. Mereka menulis dengan bahasa Arab, Jawa, Melayu dan Sunda. Selain itu, mereka juga menggunakan aksara Jawa, Arab, dan Jawi atau Pegon. Alas tulis yang digunakan yaitu kertas Eropa, daluwang, lontar dan kertas bergaris. 

Tendi menjelaskan, aksara Pegon lahir dari tradisi Islam yang bersemai dengan bahasa dan aksara lokal. Ini telah menjadi alternatif bagi masyarakat Pribumi untuk mengungkapkan pendapat dan menyuarakan suaranya. Fenomena ini pada akhirnya membuat pemerintah kolonial merasa terancam dan mewaspadainya.

"Nah, media tulis menulis alternatif itu pada perkembangannya menjadi media komunikasi antar orang-orang yang berkumpul dan berserikat untuk melawan Belanda, mereka membangun jaringan dengan perantara aksara tersebut," ujarnya.



Sumber: Republika.co.id
loading...