Menjadi Pribadi yang Jujur

Kisah berikut menunjukkan keutamaan bersikap jujur

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Toto Tasmara

Saat kepemimpinan Khalifah Abbu Bakar Ash-Shiddiq, kaum Muslimin menghadapi paceklik dan tekanan ekonomi yang sangat berat. Para pedagang mencoba menimbun barang dan menaikkan harga berlipat ganda.

Suatu ketika, rombongan pedagang dari Syam menurunkan barang dagangan berupa gandum dan kebutuhan sehari-hari yang telah dipesan Utsman bin Affan. Melihat barang-barang Utsman bin Affan, para spekulan mendatangi rumahnya dan menawarnya.

"Dua kali lipat keuntungan untukmu, apabila engkau menjualnya kepada kami!'' kata para pedagang. Dengan tersenyum Utsman menjawab, ''Mohon maaf, barang ini sudah ada yang membeli.''

Para pedagang pun menaikkan penawarannya. ''Kalau begitu, empat kali lipat keuntungan yang akan engkau peroleh.''

Utsman tetap tak terpengaruh dengan penawaran yang sudah melampaui batas kewajaran tersebut. Para pedagang merasa penasaran seraya berkata, ''Wahai Utsman, di Madinah ini, kami adalah penawar yang terbaik. Siapakah gerangan yang berani melebihi tawaran kami?''

Utsman pun langsung menjawab, ''Allah memberi kepadaku sepuluh kali lipat!'' Dan, para pedagang itu pun tidak berani lagi menawarnya.

Keesokan harinya Utsman bin Affan menjual seluruh barangnya tersebut dengan harga yang terjangkau dan sebagiannya lagi dibagi-bagikannya kepada para fakir miskin. Dalam sebuah peristiwa yang lain, Rasulullah mendatangi seorang pedagang. Kemudian memasukkan tangannya ke dalam tumpukan makanan, dan ternyata dalam tumpukan tersebut terdapat makanan yang busuk.

''Apa yang basah ini?'' tanya Rasulullah.

Dengan gugup pedagang itu menjawab, ''Makanan itu kena air hujan sehingga busuk.''

Rasul bersabda, ''Mengapa tidak engkau tempatkan di atas, agar bisa dilihat pembeli? Barangsiapa yang menipu, dia bukanlah pengikutku!''

Peristiwa tersebut memberikan dua makna yang sangat mendalam. Pertama, sikap keteladanan Utsman adalah potret seorang pedagang yang jujur dan mempunyai tanggung jawab sosial yang tinggi.

Kedua, seorang pedagang yang curang oleh Rasulullah diancam tak dimasukkan dalam kategori pengikutnya.



Sumber: Republika.co.id
loading...