Warisan Teknologi Peradaban Islam tak Dikenal, Mengapa?

Ahli sejarah kesulitan menemukan jejak pemikiran ilmuwan muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Adakalanya, para ahli sejarah kesulitan menelaah betapa berpengaruhnya teknologi di era Islam dalam membangun peradaban modern. Hal itu diungkapkan oleh sejarawan Ehsan Masood. Kajian naskah ilmiah dapat membantu cendekiawan mengikuti jejak dokumen yang menunjukkan bagaimana sebuah pemikiran menyebar.

Tak demikian dengan perkembangan pada bidang teknologi. Menurut Masood, tidak selalu mudah melihat bagaimana penemuan baru diciptakan. Tanpa bukti fisik, sulit memastikan apakah sebuah ciptaan adalah hasil karya sang penemu atau sejauh mana dia mungkin mengadopsi pemikiran sejawatnya. Banyak mata rantai yang hilang.

Hal senada diungkapkan pula oleh CG Ludwol dan AS Bahrani dalam bukunya, Mechanical Engineering during the Early Islamic Period. Mereka menyatakan, banyak peralatan mekanik dan teknologi mesin dari zaman keemasan Islam yang tidak diketahui keberadaannya lagi atau sama sekali tidak dikenal.

Ada dua alasan yang mengemuka. Pertama, sejumlah ilmuwan dan insinyur pada masa itu tidak mencatat hasil karya mereka atau memublikasikannya. Keahlian mereka hanya diwariskan secara turun-temurun dari guru ke murid, begitu seterusnya. Kedua, kendati ada catatan dan literatur tentang sebuah peralatan, itu pun sulit ditemukan.

Beruntung, beberapa catatan itu masih terpelihara dan menjadi bahan studi oleh sejarawan ataupun ilmuwan pada abad-abad berikutnya. Di sisi lain, banyak ilmuwan menelaah manuskrip para cendekiawan Muslim serta menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin dan bahasa lainnya.

Di antaranya adalah buku berjudul Kitab al Hiyal karya Banu Musa. Buku yang ditulis pada 830 Masehi tersebut menghimpun sebanyak 100 alat teknik yang berhasil dibuat. Buku lainnya adalah hasil tulisan al-Jazari, yaitu Kitab fi Ma'rifat al Hiyal al Handasiya. Buku tersebut terdapat ilustrasi sejumlah peralatan.

Misalnya, jam, pena, pompa air, dan peralatan lainnya. Buku yang terbit di Diyar Bakr, Turki, ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Donald R Hill.



Sumber: Republika.co.id
loading...