Akhirnya Mat Kelor Kesasar Juga

SOSOK Mat Kelor terkenal sebagai sosok penuh cara nan jenaka dalam menjalani berbagai peristiwa. Namun bagaimanakah jika Mat Kelor sedang kesasar? Peristiwa hari kemarin di jamarat (tempat lempar jumrah yang sering dipahami lempar setan) menorehkan kisah baru bagi Mat Kelor.

Dia bertemu dengan seorang lelaki tua asal Madura juga yang menangis tersedu-sedu di jamarat itu. Matanya terus dikucek-kucek alias diusap-usap berkali-kali dengan terus menangis sedih. Banyak yang mendatangi lelaki tua itu namun tak ada yang bisa komunikasi dengannya karena dia hanya bisa bahasa ibu, bahasa Madura. Untung saja ada Mat Kelor. Semua menyangka bahwa lelaki tua ini kehilangan uang atau kehilangan istri.

Ketika ditanya mengapa, lelaki tua menjawab bahwa teman-temannya telah selesai dengan lancar melempar setan lalu pulang. Dia berkata: "Entah apa salahku kok sampai saat ini saya belum bisa melihat setan, sehingga saya tidak melempar. Setan yang mana yang akan dilempar?" Mat Kelor tersenyum paham dan menghiburnya: "Hanya orang yang bermasalah dengan setan yang bisa melihat setan. Bapak tak punya masalah dengan setan, jadi tidak melihatnya. Niatkan mulai sekarang melempar setan yang ada di hati Bapak dan pulanglah." Lelaki tua ini senang dikatakan tak bermasalah dengan setan, padahal maksud Mat Kelor adalah bahwa lelaki tua ini sering berteman dengan setan karena tidak mau mengaji dan belajar manasik haji dengan benar.

Seusai melempar, lelaki tua ini minta antar ke Mat Kelor ke tendanya. Dengan ikhlas Mat Kelor mengantarnya. Lumayan jauh, tendanya sekitar 6 kilometer dari jamarat. Saat kembali ke tenda sendiri Mat Kelor keliru jalur melewati tenda orang-orang Arab. Dia kebingungan juga. Dahi dan dadanya berkeringat hektik. Bolak-balik dia membuka GPS hape namun tak paham karena semua bertuliskan Arab yang dia tidak familiar. Mat Kelor resmi kesasar.

Beruntung dia membawa kartu Maktab (nomer tenda), maka dia memberanikan diri bertanya pada polisi dengan menggunakan bahsa Arab setahunya. Mat Kelor bertanya: "Ya thuwwan (maksud dia: wahai tuan), hadza (ini, sambil telunjukkan diletakkan di dadanya) hadza (ini, sambil menunjuk nomer maktab), ayna (dimana, sambil geleng kepala)." Polisinya cerdas, paham dan tersenyum lalu ditunjukkan arah. Mat Kelor berkata lagi: "Hadza (ini, sambil pegang lutut), hadza (begini) sambil tangannya digoyang-goyang alias honcang dan capek). Polisi ketawa paham dengan bahasa Mat Kelor yang hanya bermodal HADZA ini. Mat Kelor diantar memakai sepeda motor, tiba di tenda kami.

Mat Kelor bercerita kepada kami, kami tertawa. Saya nyeletuk: "Kamu ini adalah haji DZA MA HADZA." Mat Kelor tertawa. Aduuh lalalalaa. Hancur bahasa Arab kena gaya Mat Kelor. Sudah ya, kisah hari ini hadza (ini, sambil jempol saya angkat). Salam, AIM@mabit Mina. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...