Cinta Kelas Berat

HAMPIR semua orang mendengar judul kisah cinta Laila Majnun. Namun saya yakin tidak setiap orang membaca kisahnya secara detail dan lengkap. Kisah seorang lelaki bernama Qays bin Mulawwah yang tergila-gila pada seorang wanita bernama Laila menjadi kisah melegenda yang menjadi banyak rujukan para pecinta. Saya tak mungkin berkisah lengkap di sini, namun izinkan saya berbagi satu kisah kecil saja dari kisah besar itu.

Suatu hari Qays berjalan mengikuti anjing milik Laila untuk menunjukkannya ke tempat Laila berada. Cinta itu memang memberikan nyali tambahan bagi pemiliknya untuk berjumpa dengan yang dicinta dengan cara apapun. Qays dalam perjalanannya itu bertemu dengan sekelompok manusia yang sedang shalat berjamaah. Dalam perjalanan pulangnya, Qays bertemu kembali dengan orang-orang yang tadi shalat itu.

Mereka bertanya kepada Qays mengapa dia tidak berhenti untuk shalat bersama mereka padahal saat lewat tadi mereka sedang shalat jamaah. Pertanyaan yang cukup mematikan bagi Qays yang mungkin tak bisa dijawabnya dengan jawaban biasa. Andai saja kita dalam posisi Qays, bisa jadi jawaban kita adalah: "Ada kepentingan mendadak yang harus segera dilaksanakan." Tapi bagaimanakah jawaban Qays?

Qays bertanya balik: "Ah yang benar? Apa waktu itu, saat kulewat, kalian semua sedang shalat?" Dengan kompak mereka menjawab: "Iya, kami sedang shalat." Qays kemudian berkata: "Saya demi Allah tak melihat kalian sedang shalat. Dan demi Allah saya tak melihat kalian semua mencintai Allah. Karena saya mencintai Laila, saya tak melihat apapun selain Laila." Jadi, harusnya, orang mencitai Allah tidak akan melihat apapun selain Allah, fokus cinta hanya Allah. Sungguh ini adalah potret cinta kelas berat.

Teringatlah saya pada ceramah Prof. Husein Aziz, orang yang benar-benar bertauhid itu tak melihat kecuali Yang Mahasatu.

Bagaimanakah dengan cinta kita kepada Allah? Salaam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...