Ibrah dari Tukang Becak

Sebuah hikmah bisa berasal dari manapun, termasuk dari tukang becak.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wajiran MA

Sebuah hikmah bisa berasal dari manapun, termasuk dari tukang becak. Kesederhanaan, komitmen, rajin, disiplin, bisa memberi pelajaran berharga. Suatu hari, sebelum mengisi acara di Gedung PP Muhammadiyah, saya menyempatkan shalat di masjid sebelah utara alun-alun Kota Yogyakarta. Di situ, saya bertemu dengan seorang tukang becak yang berusia 60 tahun, dan profesi ini sudah dijalani puluhan tahun.

Seperti umumnya tukang becak, ia juga sama dengan yang lain. Yang agak membedakan, ia senantiasa membawa baju koko, sarung, dan peci. Ketiga barang itu ia tempatkan di jok becak yang terletak di bagian belakang. Tak cuma pakaian itu, ia juga membawa sebuah buku dan kacamata baca. Sepengetahuanku, buku-buku itu berisi tentang sejumlah ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Buku itu bersampul dengan warna kehijauan.

Yang sangat membanggakan sekaligus membahagiakan, dari perbincangan singkat dengannya, tutur kata sang tukang becak sangat sopan dan penuh bijaksana. Ia penuh optimistis dan konsisten dalam menjalani kehidupan. Hampir setiap hari, ia sudah berada di masjid itu sejak pukul 11.30 atau 30 menit sebelum azan berkumandang. Saat itu, ia bertindak sebagai imam di masjid megah itu.

Seusai shalat, saya melanjutkan perbincangan dan ia pun bercerita banyak hal. Ia mengatakan, kegiatan itu sudah dijalaninya selama lebih kurang 20 tahun, terutama sejak ia menderita sakit parah. Karena penyakit yang diderita nya, dokter memprediksi, waktunya tak lama dan hanya keajaiban dari Allah yang bisa menyelamatkan hidupnya. Sebab, komplikasi penyakit yang dideritanya sudah sangat akut.

Dulu, sebelum sakit, hampir setiap malam, ia menjalaninya dengan begadang di pinggir jalan, mengobrol tanpa arah dengan rekan-rekannya, dan terlibat perbuatan yang meresahkan masyarakat. Ia suka main kartu remi, catur, dan sabung ayam. Terkadang, ia juga turut menenggak mi numan keras. Hal itu bia sa dilakukannya hingga pagi hari.

Rupanya, Allah menyayanginya. Atas kehendak dan hidayah Allah, ia pun disadar kan. Ia diberi ujian berupa penyakit parah. Berbagai upaya sudah dilakukannya, termasuk ke dokter. Namun, tak kunjung membuahkan hasil. Ia pun kembali kepada Allah, menyerahkan hidupnya.

Dalam doa dan keinginan untuk memperbaiki diri, ia rajin shalat tepat waktu dan melaksanakannya secara berjamaah. Ia berjuang keras un tuk menghapus segala dosa nya, sebelum ajal menjemput. Ia pun memilih pekerjaan sebagai tukang becak, supaya tidak terikat dengan yang lain.

Berangkat kerja pukul 05.00 pagi dan pulang pukul 17.00 sore. Dan bila shalat akan tiba, ia segera ke masjid. Ia me lakukannya dengan ikhlas, tanpa pernah mengeluh. Dari kebiasaannya ini, yak ni rajin shalat tepat waktu, dilakukan secara berjamaah, dan rutin berolahraga (menarik becak), kini ia merasa lebih sehat.

Atas izin Allah, penyakit yang dideritanya sembuh total setelah diperiksakan ke dokter. Atas hal itu, kini ia makin berkomitmen shalat tepat wak tu, dan sebisa mungkin puasa sunah. Subhanallah.



Sumber: Republika.co.id
loading...