Memaafkan Bukti Kemuliaan

Salah satu kunci kebahagiaan hidup ialah rela memaafkan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agus Sopian

JAKARTA — Salah satu kunci kebahagiaan hidup ialah rela memaafkan. Allah janjikan pahala bagi orang-orang yang hatinya lapang memaafkan. Firman-Nya, "Dan, balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (QS asy-Syura [42]: 40).

Memaafkan dan berbuat kebaikan ialah cara terbaik mema damkan perbuatan buruk orang lain kepada kita. Ketika ada orang berbuat buruk, kemudian kita membalasnya, bisa jadi orang ter sebut akan kembali membalasnya. Sehingga, kita sibuk untuk terus membalas keburukan dengan keburukan, tapi jika kebu rukan dibalas dengan maaf dan kebaikan, selesailah semuanya.

Rasulullah SAW adalah teladan dalam memaafkan. Bagaimana beliau diludahi oleh kaum kafir Quraisy ketika hendak pulang dari Masjid, tapi tak pernah membalasnya dengan meludahi kembali. Lalu, kisah Rasulullah saat dilempar batu oleh budak Tsaqilf, hingga kakinya berdarah, tapi yang dilakukan Rasulullah, yaitu mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.

Rasulullah tak pernah membalas keburukan dengan keburukan, tak pernah ada dendam di hatinya. Begitulah karakter pemaaf yang dimiliki Rasulullah, karakter pemaaf yang patut untuk diteladani. Jika ada seseorang yang datang ke beliau untuk minta maaf, tak segan beliau memaafkan orang tersebut.

Bagi kebanyakan orang, butuh waktu untuk memaafkan. Namun, orang-orang yang berjiwa besar dan mengharapkan keridhaan Allah semata, hatinya akan rela memaafkan. Dan, Allah tidak akan pernah menyianyiakan kebajikan setiap hamba-Nya. Dia akan membalas kelapangan orang yang mau membuka pintu maafnya dengan limpahan kemuliaan.

Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah tidak akan mengurangi harta benda, Allah pasti akan menambah kemuliaan seorang hamba (yang mengedepankan sikap) maaf, dan jika seorang merendahkan diri pada Allah, pasti Allah akan memuliakannya." (HR Muslim).

Hanya Allah yang Maha Sempurna, sementara manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesem purnaan manusia justru terletak pada ketidaksem purnaannya. Dengan memahami konsep ini, hati kita akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain. n 



Sumber: Republika.co.id
loading...