Alasan Ulama Melarang Ilustrasi Kiamat

RASULULLAH Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, "Aku sediakan untuk para hamba-Ku yang saleh, janji indah yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam batin manusia." (HR. Bukhari 3244).

Allah hanya menceritakan, namun bentuknya tidak ditampakkan. Agar menjadi ujian keimanan bagi para hamba. Karena itulah, para ulama melarang membuat ilustrasi kejadian hari kiamat. Apapun bentuknya. Baik kejadian kebangkitan, proses hisab, shirat yang membentang di atas neraka, timbangan (mizan), termasuk surga dan neraka. Ada beberapa alasan yang mendasari itu,

[1] Semua kejadian di hari kiamat tidak bisa dibayangkan manusia.
[2] Ilustrasi yang digambarkan, bisa dipastikan dusta, sangat jauh dari aslinya.
[3] Akan hilang kewibawaan akhirat di mata manusia.
[4] Orang ceroboh bisa lebih nekat dalam membayangkan akhirat.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang kasus orang membuat gambar kebun sebagai ilustrasi surga atau ilustrasi nyala api seolah itu neraka. Jawab beliau, Semacam ini tidak boleh dilakukan. Karena kita tidak mengetahui hakekat dari semua itu. seperti yang Allah firmankan, (yang artinya), "Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 17). Dan seperti apa neraka juga tidak diketahui.

Lalu beliau melanjutkan, "Adakah orang yang bisa membuat gambar neraka? Tidak ada satupun yang mampu. Karena itu, sampaikan bahwa orang yang melakukan tindakan semacam ini bahwa itu haram. Meskipun sangat disayangkan, banyak masyarakat saat ini mereka menjadikan fenomena akhirat seperti kejadian terindera yang bisa disaksikan." (Liqaat Bab al-Maftuh, volume 222, no. 22)

Keterangan lain pernah disampaikan Syaikh Abdurrahman al-Barrak, "Hakekat dari perkara ghaib baik di masa silam, di masa sekarang, maupun di masa mendatang, tidak mungkin untuk dibayangkan, apalagi digambar! Termasuk kondisi kiamat, seperti hari berbangkit, as-Shirat, Mizan, seperti kejadian sebelumnya seperti tiupan sangkakala, kejadian kehancuran besar dan semua perubahan di aats maupun di bawah, dan suasana luar biasa yang mengiringinya."

Demikian. Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]



Sumber: Inilah.com
loading...