Belajar dengan Melingkar di Masjid

Kegiatan belajar-mengajar di masjid memang terbilang unik dan sangat khas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada perkembangannya, para pelajar juga tak hanya menimba ilmu di masjid saja. Untuk mempraktikan kemampuannya dalam bidang kedokteran, para siswa juga belajar di rumah sakit.

Yang tertarik astronomi juga belajar langsung di observatorium. Tempat belajar juga bisa dilakukan di madrasah - umumnya tempatnya berdampingan dengan masjid. Selain itu bisa juga di rumah-rumah para guru.

Di wilayah Spanyol Muslim, aktivitas pendidikan pada umumnya bertempat di masjid. Masjid menjadi pusat aktivitas belajar-mengajar di mulai di daerah kekuasaan Dinasti Umayyah itu sejak berdirnya Masjid Cordoba pada abad ke-8 M. Kegiatan belajar-mengajar di masjid memang terbilang unik dan sangat khas.

Format dasar pendidikan di masjid adalah belajar dengan melingkar. Format seperti ini dikenal sebagai Halaqat al-ilm atau halaqah. Dalam ensiklopedia Islam, Halaqah berari "kumpulan orang-orang yang duduk melingkar" atau "kumpulan para pelajar di sekitar seorang guru". Kerap kali, masjid-masjid yang menyelenggarakan halaqah kedatangan ilmuwan tamu.

Secara khusus, ilmuwan atau ulama tamu itu akan dipersilakan duduk di samping guru sebagai bentuk penghormatan. Terkadang, ulama atau ilmuwan tamu itu juga diberikan waktu untuk mengajar. Penjelajah Muslim terkemuka dari Maroko, Ibnu Batutta, dalah catatan perjalannya mengambarkan lebih dari 500 pelajar menghadiri halaqah di Masjid Agung Umayyah, Damaskus.

Geografer dan penjelajah Muslim lainnya, Al-Muqaddasi, juga menceritakan di Masjid Amr dekat Kairo, Mesir terdapat lebih dari 50 halaqah pada satu tempat. Sedangkan di masjid utama Kairo, tak kurang terdapat 120 halaqah.



Sumber: Republika.co.id
loading...