Mengenal Karya Fiksi Ilmiah di Dunia Islam

Banyak pemikir dan penulis di dunia Islam yang tertarik kembangkan fiksi ilmiah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hayy memendam pertanyaan dalam dirinya. Tak ada seorang pun yang bisa ia ajak berkeluh kesah, bahkan bertukar pemikiran. Ia akhirnya mencari sendiri jawaban atas segala tanya yang ada dalam benaknya. Bahkan, ia mengautopsi bagian tertentu tubuhnya untuk menemukan jawaban.

Akhirnya, ia menemukan jawaban. Ia menemukan kesejatian. Ia yang tinggal di sebuah pulau terpencil, kemudian bersentuhan dengan agama dan peradaban saat bertemu dengan Absal, orang asing yang terdampar di pulau, di mana Hayy tinggal karena kapalnya karam.

Hayy adalah kisah dalam sebuah novel yang memaparkan upaya mencari sebuah kesejatian. Ini merupakan penjelasan mengenai metode filsafat. Kisah Hayy yang dalam novel berjudul Hayy ibn Yaqzan itu ditulis oleh Ibn Tufail, seorang filsuf dan dokter.

Tufail merupakan cendekiawan Muslim pada awal abad ke-12, masa pemerintahan Islam di Spanyol. Banyak kalangan mengungkapkan, novel ini menuntun pada sebuah revolusi ilmiah. Ini merupakan novel Arab dan filsafat pertama yang memengaruhi literatur Arab dan juga Persia.

Bahkan, novel ini juga menancapkan pengaruhnya di Eropa, terutama setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan sejumlah bahasa Eropa pada 1671. Sebelumnya, Ibn Sina menulis kisah dalam judul yang sama, namun bentuk kisah yang berbeda.

Hayy bisa disebut sebagai sebuah fiksi ilmiah yang telah dirintis di dunia Islam. Namun, pada perkembangan selanjutnya, Barat mendominasi pengembangan fiksi ilmiah dalam beragam bentuknya, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam produk-produk film.

Jika membandingkan zaman sekarang ini, Barat telah lama bergelut dan menelurkan beragam karya fiksi ilmiah. Karya-karya fiksi ilmiah dari Barat juga tak hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat di Barat, tetapi juga kemudian merambah ke dunia Islam.

Seiring berjalannya waktu, kini banyak para pemikir dan penulis di dunia Islam yang tertarik kembali untuk mengembangkan fiksi ilmiah. Paling tidak, keberadaan karya-karya fiksi ilmiah Islam itu mampu menjadi bahan pemikiran atau renungan di kalangan umat Islam.



Sumber: Republika.co.id
loading...