Rujuk kepada Kebenaran

Melawan hawa nafsu demi mengakui kebenaran terasa berat

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Subhan Fatuddin

Khalifah Umar bin Khattab berpesan kepada Abu Musa al-Asy'ari ketika mengang katnya sebagai gubernur: "... dan janganlah sekali-kali keputusan yang sudah Anda putuskan kemarin yang setelah Anda mengintrospeksi diri itu ternyata salah, menghalangi Anda untuk kembali kepada yang benar karena kebenaran itu sesungguhnya lebih diutamakan dan kembali kepada kebenaran itu lebih baik daripada berkepanjangan dalam kebatilan/kesalahan."

Sungguh hal tersebut adalah sebuah nasihat yang agung kepada siapa saja, terlebih bagi mereka yang mengemban amanah jabatan. Ketika dia membuat atau memutuskan kebijakan yang akan berdampak luas kepada umat/masyarakat untuk tidak segan-segan merevisi aturan/kebi jakan nya ketika memang ada kesalahan. Namun demikian, tidak setiap kita siap dan sanggup merevisi dan mengakui kesalahan kecuali bagi mereka yang dibimbing oleh petunjuk dan terbebas dari hawa nafsu.

Syekh Abdurrahman al-Mu'allimi dalam kitab at-Tankil memberikan penjelasan, melawan hawa nafsu demi mengakui kebenaran terasa berat karena beberapa sebab. Pertama, seseorang merasa jika ia mengakui sesuatu yang benar, mau tidak mau harus mengakui bahwa sebelumnya ia berada di atas kebatilan/kesalahan. Tentunya hal ini akan ditolak oleh nafsu yang sebelumnya telah menguasai; apa kata dunia?

Kedua, ia telanjur memiliki kedudukan, memiliki popularitas dan sumber penghasilan pada sesuatu yang batil tersebut. Hal ini pun menyulitkan baginya dalam memilih kembali kepada kebenaran. Hawa nafsunya akan berontak karena kehilangan pengikut, jabatan, dan fasilitas finansial duniawi.

Ketiga, kesombongan. Inilah dosa pertama yang dilakukan Iblis ketika menolak perintah Allah sujud kepada Adam AS, yang akhirnya Allah melak natnya hingga hari kiamat. "Dan (ingat l ah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kalian kepada Adam," maka bersujud lah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan mereka yang kafir." (QS al-Baqarah [2]: 34).

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Luqman: 18). Ayat ini kembali menegaskan ke pada kita larangan berlaku som bong, terlebih ketika telah mengetahui kebenaran. "Sombong adalah me nolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR Muslim no 91). Wallahu a'lam



Sumber: Republika.co.id
loading...