Syukur dan Iman

Dengan ujian itu, kebersyukuran dan keimanan akan semakin meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fajar Kurnianto

Bencana atau musibah dengan beragam bentuknya terkadang datang tiba-tiba tanpa kita ketahui kapan dan di mana. Hari ini bisa jadi kita sehat walafiat, besok bisa jadi kita mengalami sakit atau hal-hal lain yang tidak kita inginkan. Hari ini bisa jadi kita hidup senang, tenang dan sejahtera, besok mungkin sebaliknya. Begitulah kehidupan, tak ada yang terus-menerus berjalan mulus dan sesuai yang kita harapkan.

Semua itu pada hakikatnya sudah ditetapkan Allah dalam Lauh Mahfuzh-Nya, tanpa kita ketahui. Yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar memprediksi dan berdoa agar dijauhkan darinya. Dalam hadis disebutkan, Rasulullah bersabda, "Tidak ada yang dapat mengubah takdir selain doa." (HR Abu Dawud).

Dalam doa, kita berharap terhindar dan dijauhkan dari hal-hal buruk, sebaliknya berharap didekatkan dengan hal-hal yang baik. Allah Maha Mengabulkan doa, dan dengan kuasa-Nya dapat mengubah takdir-Nya karena doa kita.

Selain berdoa, di antara yang bisa mencegah datangnya ben cana atau musibah adalah selalu bersyukur dan beriman dengan sungguh-sungguh, seperti diisyaratkan dalam Alquran, "Allah tidak akan menghukum kamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan, Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui." (QS an-Nisa' [4]: 147). Secara bahasa, seperti disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab ash-Shahhah fi al-Lughah, syukur berarti memuji orang yang telah berbuat kebaikan kepadanya.

Adapun menurut istilah, seperti disebutkan Ibnul Qayyim dalam kitab Madarij as-Salikin, syukur adalah menunjukkan nikmat Allah yang ada pada dirinya, baik dengan ucapan, yaitu memuji dan mengakui nikmat itu; dengan hati, yaitu menyaksikan dan mencintai Allah; maupun dengan anggota badan, yakni mematuhi dan menaati Allah.

Semakin kita banyak bersyukur atas karunia Allah, semakin kita akan diberi tambahan nikmat (QS Ibrahim [14]: 7). Allah menegaskan, orang yang kufur atau tak bersyukur akan mendapatkan azab berupa musibah atau bencana. Dalam hal ini, syukur bisa menjadi pencegah bencana.

Adapun iman, menurut Imam Malik dan asy-Syafii, misalnya, berarti membenarkan dengan hati, mengakui dengan ucapan, dan beramal dengan anggota badan. Iman bukan hanya di hati, melainkan terpraktikkan secara nyata dalam kehidupan.

Maka, orang yang beriman adalah orang yang hidupnya selalu berada dalam jalan yang lurus. Antara hati, ucapan, dan tindakannya selaras. Orang yang beriman akan selalu menjaga hati, ucapan, dan tindakannya karena yakin Allah melihat gerakgeriknya. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada makhluk- Nya, terutama orang yang selalu bersyukur dan beriman.

Bencana dan musibah terjadi sejatinya bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menguji. Dengan ujian itu, kebersyukuran dan keimanan akan semakin meningkat. Wallahu a'lam.



Sumber: Republika.co.id
loading...