Bukti Bacaan Mushaf Usmani dan Shahih Bukhari

Bukti Bacaan Mushaf Usmani dan Shahih Bukhari

Oleh: Menachem Ali
, Dosen Philology Univeritas Airlangga.

Saat ini, Quran mushaf Ustmani telah diterbitkan sebanyak tujuh buah mushaf sesuai bacaan yang oleh para ulama disebut al-qira'at al-sab'. Ketujuh bacaan Quran ini dapat dibaca atau dilantunkan saat menunaikan shalat berjama'ah atau pun saat menunaikan shalat sendirian.

Bahkan ketujuh bacaan Quran ini boleh juga dibaca saat tadarus Al-Qur'an. Cetakan pertama ketujuh buah mushaf Ustmani ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2017 oleh penerbit Dar al-'Alamiyah dan penerbit Dar Ibn Katsir di Mesir, dan diprakarsai oleh Universitas Al-Azhar, Kairo.

Alquran dan Hadits merupakan dua dokumen utama dalam Islam. Kedua dokumen tersebut ditransmisikan berdasar sanad periwayatan yang mutawatir. Berkaitan dengan teks Quran, ada tujuh bacaan (qira'ah) yang disebut القراءات السبع (al-qira'at al-sab'), Di perpustakaan pribadi, saya memiliki dokumen-dokumen penting terkait Quran mushaf Ustmani secara lengkap, yang teksnya diterbitkan dalam tujuh cetakan mushaf yang berbeda. Begitu juga kitab Shahih Bukhari, saya memiliki tujuh kitab Shahih Bukhari yang diterbitkan dalam tujuh cetakan kitab yang berbeda.

Saya hanya memberi satu contoh terkait bacaan (qira'ah) Quran yang ortografi tulisannya sama, tetapi dibaca berbeda. Namun, meskipun bacaannya berbeda, semuanya terdokumentasi dalam cetakan mushaf yang berbeda. Dengan demikian, varian bacaan tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena ada dokumen tertulisnya.

Misalnya, Qs. Al-Baqarah 2:9/10 tertulis demikian:
في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا ولهم عذاب اليم بما كانوا يكذبون
Ortografi tulisan يكذبون (ya'-kaf-dzal--ba'-waw-nun) dibaca "yakdzibun." Dalam hal ini ada dua terbitan Mushaf Ustmani yang saya jadikan sebagai rujukan.

Pertama, mushaf Ustmani bi riwayah Syu'bah ibn 'Iyash (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir, 2017), hlm. 3 
2. Mushaf Ustmani bi riwayah Al-Laist ibn Khalid (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir 2017), halaman 3.

Ortografi tulisan يكذبون (ya'-kaf-dzal-ba'-waw-nun) dibaca "yukadzdzibun." Dalam hal ini ada 5 terbitan Mushaf Ustmani yang saya jadikan sebagai rujukan.

Mushaf Ustmani bi riwayah Qalun (al-Qahirah: Dar Al-'Alamiyah, 2017), halaman 3
2. Mushaf Ustmani bi riwayah Hisyam ibn 'Ammar (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir, 2017), halaman3
3. Mushaf Ustmani bi riwayah Warsy (al-Qahirah: Dar Al-'Alamiyah, 2017), halaman 3
4. Mushaf Ustmani bi riwayah Al-Bazziy (al-Qahirah: Dar Al-Islam, 2017), halaman. 3
5. Mushaf Ustmani bi riwayah ad-Duriy (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir, 2017), halaman.3

Contoh yang lain misalnya Qs. at-Taubah 9:3. Bacaan (qira'ah) Quran yang ortografi tulisannya sama, tetapi bila seseorang membaca teks tersebut dengan cara pembacaan yang berbeda, maka hal ini akan menyebabkan penyesatan aqidah, misalnya dibaca "wa rasulihi."

Dengan kata lain, teks yang terdokumentasi dalam ketujuh cetakan mushaf yang berbeda terkait frase ورسوله (waw-ra'-sin-waw-lam-ha'), ternyata qira'ah atau bacaannya tetap sama, yakni merujuk pada frase ورسوله (waw-ra'-sin-waw-lam-ha') tersebut, sebagaimana yang termaktub pada Qs. at-Taubah 9:3.
ان الله برىء من المشركين ورسوله

Bila ortografi tulisan ورسوله (waw-ra'-sin-lam-ha') dibaca "wa rasuluhu", maka hal ini tidak ada unsur penyesatan aqidah. Sebaliknya, bila frase tersebut dibaca "wa rasulihi", maka hal ini merupakan bentuk penyesatan aqidah yang amat fatal. Bacaan "wa rasuluhu" dapat dipertanggungjawabkan, karena ada dokumen tertulisnya, sebagaimana yang termaktub dalam ke-7 mushaf Quran yang diterbitkan. Sebaliknya, pembacaan "wa rasulihi" tidak ada 1 pun cetakan mushaf yang menyebutkan bacaan yang demikian. Dalam hal ini ada tujuh terbitan Mushaf Ustmani yang saya jadikan sebagai rujukan terkait bacaan "wa rasuluhu."

Mushaf Ustmani bi riwayah Syu'bah ibn 'Iyash (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir, 2017), halaman. 187
2. Mushaf Ustmani bi riwayah Al-Laist ibn Khalid (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir 2017), halaman 187
3. Mushaf Ustmani bi riwayah Qalun (al-Qahirah: Dar Al-'Alamiyah, 2017), halaman.187
4. Mushaf Ustmani bi riwayah Hisyam ibn 'Ammar (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir, 2017), halamn.187
5. Mushaf Ustmani bi riwayah Warsy (al-Qahirah: Dar Al-'Alamiyah, 2017), halaman 187
6. Mushaf Ustmani bi riwayah Al-Bazziy (al-Qahirah: Dar Al-Islam, 2017), halaman 187
7. Mushaf Ustmani bi riwayah ad-Duriy (al-Qahirah: Dar Ibn Katsir, 2017), halaman187.

Sementara itu, hadits Shahih Bukhari yang ortografinya tertulis الا ملكه, semua naskah cetakannnya terbaca "illa mulkahu" dan tidak ada satupun teksnya yang terbaca "illa malikahu."
كل شىء هالك الا وجهه الا ملكه

Ada beberapa terbitan kitab Shahih Bukhari yang saya jadikan sebagai rujukan, dan faktanya semua tertulis term ملكه (mim-lam-kaf-ha'), yang terbaca "mulkahu" bukan "malikahu."
1. Shahih Bukhari (Kairo, Mesir: Al-Quds, 2014), halamn 987
2. Shahih Bukhari (Beirut, Lebanon: Dar Kutub Al-'Ilmiyah, 2019), halamn 882
3. Shahih Bukhari (Beirut, Lebanon: Dar Ibn Hazm, 2009), halaman. 892
4. Shahih Bukhari (Kairo, Mesir: Maktabah Al-Imam Muslim, 2015), halaman 591
5. Shahih Bukhari (Riyadh, Saudi Arabia: Maktabah Dar Al-Salam, 1999), halaman. 837
6. Shahih Bukhari (Kairo, Mesir: al-Dar al-'Alamiyah, 2015), halaman 708
7. Shahih Bukhari Syarif Mutarjim. Arab - Urdu by Allamah Wachid Zaman (Lahore, Pakistan), halaman 959.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

  Keterangan Foto: Shahih Bukhari dengan bacaan 'mulkahu; terbitan Pakistan

Kesimpulan

Bacaan "wa rasulihi" dan bacaan "illa malikahu" secara gramatika bahasa Arab sangat bermasalah, karena kedua bacaan tersebut tidak pernah ditemukan sanad periwayatannya, sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab ulama Salaf. Sanad merupakan pilar utama dalam hal menerima validitas sebuah teks ataupun bacaan (qira'ah).
ﻗﺎﻝ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ: ﻻ ﺗﻨﻈﺮﻭا ﺇﻟﻰ اﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻭﻟﻜﻦ اﻧﻈﺮﻭا ﺇﻟﻰ اﻹﺳﻨﺎﺩ، ﻓﺈﻥ ﺻﺢ اﻹﺳﻨﺎﺩ، ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﺗﻐﺘﺮﻭا ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﺼﺢ اﻹﺳﻨﺎﺩ.
Yahya bin Sa'id berkata: "Janganlah melihat kepada isi hadisnya. Namun lihatlah sanadnya. Jika sahih maka terima. Jika tidak, jangan tertipu dengan hadis jika tidak sahih sanadnya" (Siyar A'lam An-Nubala, 9/188)

2. Imam Bukhari pasti lebih paham dan pakar bahasa Arab, sehingga beliau tidak mungkin menggunakan kalimat "illa malikahu" seperti itu. Imam Bukhari kemungkinan menggunakan 2 alternatif redaksional, karena beliau pakar bahasa Arab. Alternatif pertama, ortografi tulisan الا ملكه (baca: illa mulkahu), artinya: "kecuali kekuasaan-Nya" sebagai bukti pemahaman beliau yang pro-ta'wil. Alternatif kedua, ortografi tulisan الا ملك وجهه (baca: illa malika wajhihi), artinya: "kecuali sang pemilik wajah-Nya" sebagai bukti pemahaman beliau yang anti-ta'wil.

3.Bacaan "wa rasulihi" sangat bermasalah secara aqidah, karena tidak mungkin ALLAH berlepas diri dari Rasul-Nya. Begitu juga bacaan "illa malikahu" secara aqidah juga bermasalah, karena bermakna "kecuali sang pemilik-Nya."

Siapakah sang pemilik ALLAH? Bacaan "illa malikahu" ternyata dlamir "Hu" merujuk kepada ALLAH. Ini amat sangat mustahil dalam hal aqidah. Berarti ini merupakan sebuah pengakuan yang meniscayakan adanya tuhan lain selain ALLAH, yakni entitas lain yang memiliki ALLAH.

4. Bacaan "wa rasulihi" dan bacaan "illa malikahu" secara akademik tidak ada bukti manuskripnya. Satu pun tidak ada bukti manuskripnya yang menyebutkan bacaan seperti itu. Cetakan mushaf Quran dan cetakan kitab Shahih Bukhari juga ngak pernah ada bukti bacaan yang demikian.

Berbagai koleksi cetakan mushaf Quran dan koleksi cetakan kitab Shahih Bukhari, ternyata semuanya menyebutkan bacaan "wa rasuluhu" dan bacaan "illa mulkahu", sebagaimana yang termaktub dalam cetakan mushaf Quran dan cetakan kitab Shahih Bukhari terbitan dari kalangan Salafi sendiri.

Ada satu mushaf Quran dan dua kitab Shahih Bukhari terbitan Salafi yang saya jadikan rujukan.

1. Mushaf Al-Qur'an al-Karim bi al-Rasm al-Ustmani (Madinah, Saudi Arabia: Khadim al-Haramain al-Syarifain, 2019).
2. Shahih Bukhari (Beirut, Lebanon: Dar Ibn Hazm, 2009), halaman. 892
3. Shahih Bukhari (Riyadh, Saudi Arabia: Maktabah Dar Al-Salam, 1999), halaman 837

Silakan Anda menunjukkan bukti cetakan terbitan mushaf Quran dan terbitan kitab Shahih Bukhari dari penerbit lain, yang ortografinya tertulis ورسوله dan tertulis الا ملكه tetapi bacaannya terbaca "wa rasulihi" dan terbaca "illa malikahu."

Ini tantangan dari saya. Maka, silakan Anda buktikan dokumen penerbitannya. Selamat melakukan riset. Semoga kebenaran akan tersingkap.



Sumber: Republika.co.id
loading...