Kiai Abdullah Bina Calon Kiai dan Ulama

Pemikirannya banyak membawa wawasan baru dalam pemikiran ajaran Islam di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — KH Abdullah bin Nuh merupakan ulama ber semangat tinggi dalam menyebarkan dan menghidupkan ajaran Imam Al-Ghazali di Indonesia. Pada 1968, beliau bahkan mendirikan Majelis Taklim Al-Ghazali di Kota Bogor untuk membina calon kiai dan ulama.

Majelis taklim tersebut berkembang menjadi sebuah yayasan pendidikan dan pe santren. Yayasan Al-Ghazali kemudian tidak hanya menyelenggarakan kegiatan pengajian rutin, tetapi juga membuka madrasah dan sekolah Islam dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga menengah atas.

Dari Pesantren Al-Ghazali itu akhirnya menjadikan Kiai Abdullah sebagai ulama yang dikenal memiliki keluasan ilmu, sikap rendah hati, tegas, dan bijaksana. Dengan mengkaji karya Al-Ghazali, dia pun menjadi toleran dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.

Selain berdakwah langsung di majelis taklim, pandangan dan pemikiran beliau juga banyak yang dituangkan melalui berbagai media massa. Karya-karyanya berkisar di bidang politik, pendidikan, dan kemasyarakatan Islam. Dalam kaitannya dengan perkem bangan pemikiran Islam di Indonesia, pemikiran Kiai Abdullah berada pada jalur wasathiyah, yaitu antara ulama tradisionalis dan modernis.

Pemikirannya banyak membawa wawasan baru dalam pemikiran ajaran Islam di Indonesia, baik dalam bidang hukum Islam, tasawuf, maupun sastra. Kiai Abdullah memang sangat terkenal dengan pemikirannya yang mendalam tentang Imam Al Ghazali. Sejak kecil, dia sudah mendapat pelajaran dari ayahnya Muhammad Nuh bin Idris tentang ajaran kitab-kitab Imam al Ghazali.

Kemudian, dia juga mengajar rutin kitab Ihya' Ulumiddin dalam pengajian mingguan yang dihadiri banyak ustaz-ustaz di Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan sekitarnya. Pengasuh Ponpes Al-Ghazali Kota Bogor sekaligus putra Kiai Abdullah bin Nuh, KH Mustofa, menjelaskan, pada awal nya Kiai Abdullah tidak mudah untuk memperkenalkan pemikiran-pemikir an Al-Ghazali di Bogor. Tidak sedikit orang-orang dekatnya yang menentang.

Tapi, dengan ketekunannya, Kiai Abdullah terus mengajar dan menulis tentang al-Ghazali hingga akhirnya kesalahpahaman itu bisa dihilangkan. Hingga akhirnya beliau memiliki banyak pengikut yang ingin mengetahui tentang ajaran Imam Al-Ghazali di Bogor.



Sumber: Republika.co.id
loading...