Mengenal Sosok KH Abdullah Bin Nuh

Karena kealimannya di bidang agama, dia diluluki sebagai Al-Ghazali dari Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dakwah Islam di Nusantara tidak terlepas dari peran ulama kharismatik seperti KH. Abdullah Bin Nuh. Ia adalah seorang pendakwah yang telah menghabiskan umurnya untuk dakwah Islam dan pendidikan umat di Jawa Barat, tepatnya sekitar Bogor dan Cianjur.

Ulama yang satu ini tidak hanya menguasai bahasa Arab, tapi juga bahasa Inggris, sehingga karya-karyanya memiliki ciri khas tersendiri. Karena kealimannya di bidang agama, dia pun diluluki sebagai Al- Ghazali dari Indonesia.

Julukan tersebut diberikan kepadanya karena dia sering menerjemahkan kitab-kitab yang ditulis sang imam berjuluk Huj jatul Islam dan juga mendirikan perguruan Islam bernama 'Majelis Al-Ghazali' di kota Bogor.

Dalam buku berjudul Riwayat Hidup Almarhum KHR Abdullah bin Nuh dijelaskan bahwa beliau juga dikenal sebagai ula ma multitalenta karena menguasai berbagai bidang keilmuan, seperti sastra, fikih, dan tauhid. Bahkan, dia juga merupakan se orang ulama sastrawan dan pujangga andal karena dapat menulis banyak syair dalam bahasa Arab.

KH Abdullah Bin Nuh dilahirkan di Cianjur pada 30 Juni 1905 dan wafat pada usia 82 tahun atau tepatnya pada 26 Oktober 1987 di kota Bogor, Jawa Barat. Ia meru pakan putra seorang kiai ternama yaitu Raden Mohamad Nuh bin Idris. Sedangkan ibunya bernama Aisyah binti Sumintapura.

Dalam usia balita, Abdullah sempat dibawa oleh keluarganya untuk tinggal di Makkah selama dua tahun. Menginjak usia remaja dia pun menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu. Ia mengenal dasardasar ilmu keislaman pertama kali dari ayahnya, hingga akhirnya ia mampu menguasai bahasa Arab.

Dengan kemampuan bahasa Arab, Abdullah mampu menulis artikel dan syair dalam bahasa Arab pada usia 13 tahun. Hal ini menjadi istimewa karena tidak banyak anak seusia itu dapat menulis dengan menggunakan bahasa Alquran.

Pada 1914, ia pun mengawali pendidikan formalnya di Madrasah Al I'anah Cianjur yang didirikan ayahnya pada 1912. Madrasah ini merupakan salah satu pusat bagi kelahiran para pahlawan dan sastrawan muslim yang kebesaran namanya tidak lekang digerus zaman.

Selama menjalani pendidikan di madrasah Al-I'anah, Abdullah kecil sudah memperlihatkan kecerdasan dan ketajaman hatinya. Saat berusia delapan tahun, dia sudah mengusai bahasa Arab dengan sangat bagus sehingga sanggup menghafal Alfiah Ibnu Malik, sebuah kitab yang berisi seribu bait mengenai pelajaran gramatika Arab.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Al-I'anah pada 1918, dia bersama mu rid pilihan lainnya melanjutkan pen didikannya ke Pondok Pesantren Syamailul Huda Pekalongan, yang dipimpin oleh Us taz Sayyid Muhammad bin Hasyim bin To hir Al Alawi Al Hadromi, keturunan Hadramaut.

Pada 1922, Abdullah hijrah ke Surabaya bersama gurunya tersebut. Di sanalah ia mendapat pendidikan berpidato, kepemimpinan, praktik mengajar, dan ddiminta untuk mengajar di sekolah Hadramaut yang didirikan oleh Ustadz Sayyid bin Hasyim.

Pada 1925, Kiai Abdullah kemudian melanjutkan studinya ke Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Azhar Kairo Mesir untuk mendalami fikih Mazhab Syafii. Selama dua tahun kuliah di Al-Azhar, dia menda pat kan gelar 'Syahadatul 'Alimiyyah' sehing ga berhak untuk mengajar ilmu-ilmu keislaman.

Dalam buku Al Ghazali dari Indonesia KH Abdullah Bin Nuh, Muhammad Syafii Antonio menjelaskan bahwa selama di Mesir, Kiai Abdullah dikenal sebagai seorang yang sangat cerdas dalam mengelola waktu belajarnya. Dia juga mempelajari kaidahkaidah dalam Mazhab Syafi'i.

Namun, Abdullah tidak bisa mena matkan pendidikannya di Al-Azhar karena gurunya harus pulang ke Hadramaut. Pada 1928, dia pun pulang ke tanah air untuk menyiarkan agama Islam yang rahmatal lil alamin.



Sumber: Republika.co.id
loading...