Mualaf London Sumbangkan Ratusan Sepatu Bermerek Tiap Bulan

Sepatu bermerek merupakan donasi dari berbagai kalangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seorang warga dari London Selatan, Moosa Nsubuga, mulai tergerak untuk membantu lingkungannya semenjak menjadi mualaf. Semenjak masuk Islam, keyakinannya yang baru tersebut semakin kuat mendorongnya untuk membantu dhuafa.

Terlebih ketika Moosa memutuskan untuk memulai proyek kecil-kecilan dengan teman sejawatnya. Proyek yang ia tujukan bagi remaja bermasalah dan tunawisma itu mulai menuai hasil. 

Terbukti, sejak kebakaran Grenfell pada 2017 lalu, dirinya memberikan bantuan dan sumbangan pada korban terdampak.  Kejadian tersebut menjadi tahun-tahun awal baginya untuk berbagi. 

Meskipun ia sadar bahwa kualitas pakaian tersebut tidak sesuai harapan. Merasa malu memberikan barang compang-camping, Moosa memutuskan untuk mengubah apa yang ia berikan.  

Selang beberapa waktu, ia mulai mendirikan Resole, sebuah inisiatif untuk memberikan pelatihan pada para pemuda yang kehilangan tempat tinggal, atau kurang beruntung dengan risiko kekerasan antar gang serta korban penyalahgunaan narkoba. 

Ia beserta timnya tidak hanya membagikan barang lama, mereka juga menawarkan barang-barang bermerek dari karya desainer terkenal, seperti Gucci, Adidas, Ataupun Nike dengan kualitas yang sangat baik. 

Sadar bahwa ia juga memiliki banyak sepatu baru yang  tak terpakai, Moosa mulai menyumbangkannya dengan harapan orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Hingga kini, Resole mampu mengumpulkan sekitar 150 hingga 200 pasang sepatu setiap bulannya dari hasil sumbangan. Namun demikian jumlah tersebut bersifat fluktuatif.  

"Kepercayaan adalah alasan pribadi yang kuat untuk memberi. Tetapi ini juga dapat melibatkan bantuan orang lain dan budaya yang membesarkan saya,"kata Moosa seperti dilansir Metro, Kamis (17/10). 

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa awal mula ide untuk mengumpulkan pakaian dan sepatu terjadi pasca kebakaran Grenfell. Ia yang mulai memberikan barang dan pakaian pada korban kebakaran itu sadar bahwa ada kesulitan untuk memeriksa pakaian berkualitas, dan malu jika memberikan yang buruk setelah apa yang mereka alami.  

"Sedangkan untuk sneakers, lebih mudah untuk memeriksa kualitas dan mendistribusikannya kepada orang-orang. Jadi saya memutuskan untuk berkonsentrasi pada alas kaki," Ujar dia.  

Proyek yang awalnya hanya sampingan itu,  hanya sebatas untuk membantu komunitas lokal di London Selatan setiap dua pekan sekali. Tetapi pekerjaan tersebut mendapatkan peningkatan yang besar.  

Terbukti, sekarang Resole mampu melakukan pendistribusian dua hingga tiga kali dalam satu pekan. Alhasil, sekitar 170 pasang sepatu perbulannya bisa didistribusikan dengan nilai sekitar Rp 227 juta. 

"Ini memberi kegembiraan yang besar untuk melihat harga diri yang dapat dibawa sepasang sepatu baru kepada seseorang," kata Moosa. 

Moosa berharap agar inisiatif yang ia bangun tersebut dapat menyebar ke seluruh negeri. Dia juga berencana untuk melakukan pekerjaan tersebut menjadi pekerjaan penuh waktu, dari yang sebelumnya hanya sampingan.  

"Kami adalah tim kecil dan kami ingin memiliki akses ke ruang penyimpanan dan kantor kami sendiri.  Kami merencanakan tur Inggris pada 2020 dari Portsmouth hingga Liverpool dengan tur lima kota untuk mengumpulkan dan mendistribusikan sepatu olahraga," Tuturnya.  

Ia menambahkan, dengan adanya bantuan dari komunitas sneakerhead, pihaknya telah mendapatkan bantuan luas dari seluruh negeri. Resole hingga kini juga memiliki beberapa titik distribusi, seperti di Copit UK dan Vamp LND, serta toko sepatu di Brixton dengan layanan kebersihan, di mana setiap orang dapat menyumbangkan barangnya di dalam toko tersebut.  



Sumber: Republika.co.id
loading...