Sumbangsih Umat Islam dalam Pengelolaan Air

Sumbangsih itu antara lain menyediakan air minum bagi jamaah haji.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Karya-karya penting dalam teks Arab yang berkaitan dengan air kerap dikaitkan dengan tokoh-tokoh Muslim yang berada di panggung politik abad pertengahan. Para tokoh Muslim tersebut berupaya untuk menyediakan air minum, membangun irigasi yang memadai, dan membangun mesin bertenaga air.

Salah satu contohnya adalah proyek untuk menyediakan air minum bagi jamaah haji dari Baghdad ke Makkah. Gagasan itu melekat pada tugas-tugas keagamaan khalifah Muslim. Seperti salah satu istri dari Khalifah Harun al-Rasyid (789-809 M), Zubayda, dia membangun proyek sebuah kanal yang bisa menyediakan air dalam perjalanan dari Baghdad ke Makkah.

Gagasan dan beberapa perincian biaya dari proyek tersebut disebutkan dalam kamus biografi Ibnu Khalikan (1211-1282 M). Namun, tidak ada informasi yang akurat mengenai hasil dari proyek tersebut ke cuali bangunan untuk memasok air ke Makkah dengan mata air sekitar 25 mil jauhnya.

Dalam uraian perjalanannya, Ibnu Jubair (1145-1217 M) memberikan beberapa aspek pasokan air di sepanjang rute dari Baghdad ke Makkah. Namun, infrastruktur hidrolik ini kerap dikaitkan dengan Khalifah al-Ma'mum (813-833 M).

Sebagaimana pernah diungkapkan Presiden Sukarno, perempuan memang selalu ikut dalam setiap revolusi besar dalam sejarah manusia. Sukarno menyebut bahwa Zubaidah-lah yang membangun aliran air ke Makkah yang dinamakan air Zubaidah.

Zubaidah wafat pada 831. Dia bersama Khalifah Harun al-Rasyid, anakanaknya, dan para ahli fikih telah sembilan kali menunaikan haji. Jika tidak pergi haji, dia memberangkatkan 300 orang berhaji dengan dibekali biaya besar dan pakaian mewah.

Menurut Michael Wolfe dalam bukunya tentang haji, karena ingin mempermudah para jamaah haji di abad-abad mendatang, Zubaidah membiayai penggalian seratus sumur di sepanjang jalur al-Kufa di Irak selatan sampai ke Mina di Makkah. Air merupakan kebutuhan mendasar bagi para jamaah haji di daerah yang gersang itu.

Menurut Christiaan Snouck Hurgronje dalam Tulisan-tulisan Tentang Islam di Hindia Belanda, di waktu biasa sumbersumber air tersebut memasok air lebih dari cukup ke Kota Makkah untuk keperluan rumah tangga, mencuci pakaian, dan mandi. Persediaan air di sumur-sumur itu tidak berkurang walau lama tak turun hujan.

Dilansir laman Muslim Heritage, pada abad ke-10 juga terdapat seorang pengawas irigasi yang memiliki pengaruh yang le bih besar dari seorang wali kota. Dia me merintahkan sekitar 10 ribu pekerja un tuk membangun dan memelihara saluran irigasi, bendungan, dan serangkaian 10 noria.

Noria merupakan salah satu teknologi irigasi yang dikembangkan peradaban Islam. Teknologi yang satu ini digunakan pada sistem irigasi buatan. Untuk memudahkan aliran air secara konstan, masyarakat Muslim menggunakan noria, dalam bahasa Arab na'ura, yakni sebuah mesin pengangkat air yang masuk ke dalam saluran air kecil.

Sebuah laporan yang manarik tentang irigasi juga terdapat dalam Kitab al-Hawi yang berasal dari kuartal kedua abad ke11 Masehi. Di dalam kitab tersebut, ditemukan sebuah data terperinci mengenai keluaran berbagai pembangkit tenaga air, seperti kincir air, mesin pengangkat air, dan lain-lain.



Sumber: Republika.co.id
loading...