Tak Ada Lagi Jalan Keluar Kecuali Ini

NOTIFIKASI pesan di HP saya berbunyi tepat saya baru saja usai memimpin doa di acara Deklarasi ADN di Universitas Islam Malang. Tak segera saya buka dan baca pesan itu karena suasana sangat ramai. Pesan yang kubaca adalah ini: "Pak Kiai, ternyata jalan hidup saya buntu. Sedih dan malu menjadi satu. Satu-satunya jalan untuk lepas dari ini semua hanyalah pergi dan bunuh diri. Mohon doa."

Saya tahu orang yang mengirimkan pesan ini. Dia tengah menanggung utang istrinya yang diterkam rentenir. Utangnya mencapai Rp1,43 miliar, jumlah besar bagi petani desa. Dia juga tengah menanggung beban biaya rumah sakit ibunya yang harus cuci darah dua kali seminggu. Dia harus menanggung malu karena istrinya ketahuan "menjual diri" demi membayar utang. Masih ada tumpukan masalah lainnya yang sulit saya ungkap semua di sini. Tak adakah jalan keluar bagi semua masalah ini? Di manakah letak kebenaran firman Allah bahwa Dia tak akan membebankan sesuatu di luar kemampuan hambaNya?

Karena masih sibuk dengan acara ramah tamah, saya jawab pendek-pendek saja: "Ketemulah dengan saya sebelum pergi atau sebelum bunuh diri." Rupanya, WA saya dibacanya namun tidak dibalasnya. Lalu saya susulkan WA saya berikutnya, siapa tahu menjadi penyentuh hatinya utuk mencari jalan keluar lainnya. Berikut dua pesan WA saya:

"Pergi menjauh bukan cara tepat menghindar dari sedih dan rasa malu, karena sedih dan rasa malu itu ada di hatimu. Kemanapun kamu pergi, sedih dan malumu akan tetap ada. Rasa sedih dan malu tak memiliki tempat tunggal khusus. Dunia ini sempit, pergi kemanapun dirimu, ada saat dirimu bertemu dengan orang yang menyebakan kamu semakin sedih dan malu. Jangan pergi. Jantanlah dan hadapi."

"Kalau engkau bunuh diri, itu bukan cara terbaik untuk menghentikan luka hati dan lara jiwamu. Luka hatimu dan lara jiwamu akan berpindah pada anak dan keluargamu. Tak kasihankah engkau kepada mereka? Hanya ada satu cara mengurangi dan bahkan mengakhiri perihnya luka hatimu itu. Bertemulah denganku akan kubisikan ke kedua telingamu."

Pesan saya terkirim dan dibacanya. Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...