Bisikan Kemunafikan dan Kekufuran

KETIKA iblis diusir oleh Allah, dia bersumpah akan menggoda manusia dari segala arah. Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-Araf: 1617)

Tak ketinggalan, godaan dalam bentuk bisikan hati untuk mengucapkan kalimat kekufuran. Ini tidak hanya terjadi pada mukmin yang awam, bahkan semacam ini terjadi pada diri para sahabat. Syaikhul Islam mengatakan, "Seringkali muncul dalam diri orang mukmin, salah satu diantara cabang kemunafikan, kemudian dia bertobat kepada Allah. Terkadang terlintas dalam hati orang mukmin, kalimat kemunafikan, dan Allah menghilangkannya darinya. Orang mukmin diuji dengan was-was setan, bisikan kekufuran yang membuat sempit hatinya."

Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan riwayat dari para sahabat, Sebagaimana yang diutarakan para sahabat, Wahai Rasulullah, kami terkadang menjumpai lintasan pikiran pada diri kami, andaikan kami dijatuhkan dari langit, lebih kami sukai dari pada mengungkapkan lintasan pikiran itu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkomentar, "Itu bukti adanya iman." (HR. Muslim 132, Abu Daud 5111, dan yang lainnya).

"Maksudnya, munculnya bisikan semacam ini, padahal para sahabat sangat membencinya, dan berusaha menghilangkannya dari hati mereka, merupakan bukti adanya iman. (Kitab Al-Iman 238, dinukil dari Kitab Tauhid Dr. Sholeh Fauzan, hlm. 25). Ulama sepakat, ini bukan kekufuran An-Nawawi dalam karyanya, Al-Azkar, mengatakan, "Lintasan pikiran dan bisikan hati, jika tidak mengendap dan tidak keterusan berada dalam diri pelakunya, hukumnya dimaafkan, dengan sepakat ulama. Karena munculnya kejadian ini di luar pilihan darinya. Sementara tidak ada celah baginya untuk menghindarinya."

An-Nawawi melanjutkan, "Inilah makna dari hadis sahih, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya Allah mengampuni untuk umatku terhadap apa yang terlintas dalam hatinya, selama tidak diucapkan atau dikerjakan'." (HR. Muslim 127). Para ulama mengatakan, Maksud hadis adalah lintasan pikiran yang tidak menetap dalam hati'. An-Nawawi melanjutkan, "Para ulama mengatakan, baik bisikan itu berupa ghibah, atau kekufuran, atau yang lainnya. Siapa yang terlintas dalam hatinya kekufuran, dan hanya sebatas lintasan tanpa sengaja muncul, kemudian segera dia hilangkan, maka dia tidak kafir, dan tidak bersalah sedikitpun." (Al-Azkar An-Nawawi, hlm. 345).



Sumber: Inilah.com
loading...