Ibrahim, Yakub: Dalam Tafsir dan Targum

Ibrahim, Yakub: Daalam Tafsir dan Targum

Oleh: Menachem Ali
, Dosen Philologi Univeritas Airlangga

Allah berfirman:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
"Dan ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai tangan-tangan dan penglihatan-penglihatan." (Qs. Shad 38:45)

Kata الايدي ("al-aydiy") dalam ayat ini secara literal berarti "tangan-tangan", sedangkan kata الابصار ("al-abshar") secara literal bermakna "penglihatan-penglihatan." Namun, ayat ini tentu saja tidak mungkin dapat dipahami secara literal. Itulah sebabnya para salaf telah mengalihkan maknanya dengan metode takwil.

Para ahli tafsir dari kalangan "sahabat" dan generasi setelahnya ternyata mereka memang mentakwil kata "tangan" dan "penglihatan." Imam Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) mengutip pendapat Ibnu Abbas, Mujahid dan Qatadah dan menyatakan bahwa "tangan" bermakna القوة في امرالله (kekuatan dalam melaksanakan perintah Allah) sedangkan "penglihatan" bermakna العقول في الدين (keluasan ilmu dalam agama). Lihat Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari al-Musamma Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an. Juz X (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2014), hlm. 592.

Menariknya, Imam at-Thabari secara jelas menyebut kitab tafsirnya berjudul تاويل القران (Ta'wil Al-Qur'an). Hal ini membuktikan bahwa ayat-ayat Quran memang bisa ditafsirkan dengan menggunakan metode takwil sebagaimana yang dihimpun oleh Imam Ibnu Jarir at-Thabari, dengan syarat sesuai penakwilan generasi salaf. Dengan demikian, Imam Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) memang memahami ayat tersebut sepadan dengan takwil generasi salaf era sebelum beliau, dan tidak pernah menyebal dari takwilan generasi salaf zaman sebelum beliau.

Artinya, Imam Ibnu Jarir at-Thabari hanya mengkompilasi atau menghimpun semua ta'wil yang bersumber dari generasi salaf sejak abad ke-1 H. hingga masa beliau hidup, yakni abad ke-4 H. Itulah batasannya, yakni hanya merujuk pada ta'wil generasi salaf saja, yang merupakan generasi yang secara de jure "digaransi" oleh Nabi SAW.

Allah juga berfirman:
وقال اني مهاجر الى ربي
"Dan (Ibrahim) berkata: "Sesungguhnya aku akan berhijrah kepada Tuhan-ku." (Qs. al-Ankabut 29:26)

Istilah مهاجر (muhajir) secara literal bermakna "orang yang berpindah atau migrasi dari satu tempat ke tempat yang dituju." Bila ayat ini dipahami secara literal, maka TUHAN bertempat, karena TUHAN berada di tempat lain. Apakah Ibrahim bermigrasi menuju TUHAN yang bertempat di tempat lainnya? Apakah TUHAN itu memiliki "jism" sehingga

Dia bertempat di suatu lokasi yang akan dituju oleh Ibrahim? Apakah TUHAN bertempat sehingga Ibrahim migrasi menuju tempat itu? Bila dipahami demikian, maka kita akan terjebak pada aqidah "tajsim." Imam at-Thabari (w. 310 H) menyatakan demikian:
وقال ابراهيم اني مهاجر دار قومي الي ربي الى الشام 
وبنحو الذي قلنا في ذلك قال اهل التاويل

Jadi, penjelasan Imam at-Thabari ini menyatakan bahwa Ibrahim memang migrasi dari tanah leluhurnya menuju kepada Tuhannya, menuju ke tanah Syam. Apakah Imam at-Thabari seorang mujassimah yang menganut aqidah "tasybih"? Apakah Imam at-Thabari berkeyakinan bahwa Tuhannya Ibrahim itu bertempat di kawasan Syam?

Tentu saja tidak demikian, ini hanya berkaitan dengan tuturan gaya bahasa atau stilistika bahasa. Stilistika bahasa seperti inilah yang dipahami oleh para ahli takwil, dan Imam at-Thabari menjelaskan dalam konteks ini. Intinya, Imam at-Thabari menolak pemahaman ayat tersebut secara literal, itulah sebabnya ayat tersebut harus ditakwil demi menghindari pemahaman "tajsim." Lihat Ibn Jarir at-Thabari. Tafsir at-Thabari al-Musamma Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an. Juz X (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2014), hlm. 133.

Dalam kitab suci Torah, khususnya Sefer Bereshit 17:1-2 disebutkan nas demikian:
ויהי אברם בן תשעים שנה ותשע שנה שנים וירא 
יהוה אל אברם ויאמר אליו אני אל שדי התהלך לפני 
והיה תמים. ואתנה בריתי ביני ובינך וארבה אותך במאד מאד.
Wa yehi Avrom ben tish'im shanah we tesha' shanim wayyaro ADONAI el Avrom wayyomer eloiv Ani El Shaddai tithallekh le fanai we heyeh tamim. We etna beriti beyni u-beynikho we arbeh otkha be meod meod.

("Ketika Abram berumur 99 tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Ilah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak").

Bagimana cara TUHAN menampakkan diri-Nya kepada Abram? Apakah TUHAN menampakkan diri-Nya secara fisik kepada Abram? Apakah TUHAN menampakkan diri-Nya berhadap-hadapan secara "tajsim" kepada Abram? Apakah TUHAN itu ber-jisim di hadapan Abram dan berfirman kepadanya untuk menyampaikan sesuatu? Apakah kitab suci Torah mengajarkan bahwa TUHAN itu memang memiliki jisim?

Rabbi Moshe ben Maymon (w. 1204 M.) penulis kitab Mishneh Torah, juga dikenal sebagai ulama salaf di kalangan komunitas agama Yahudi. Beliau juga yang mengkompilasi שלשה עשר עקרים (shloshah 'ashar 'eqrim), artinya: "Tiga Belas Kanon Iman" agama Yahudi, di antaranya disebutkan pasal iman yang menyebutkan bahwa TUHAN itu אינו גוף (eino guf), artinya: "Dia tidak ber-jisim."

Teksnya berbunyi demikian:

אֲנִי מַאֲמִין בֶּאֱמוּנָה שְׁלֵמָה. שֶׁהַבּוֹרֵא יִתְבָּרַךְ שְׁמוֹ אֵינוֹ גוּף. וְלֹא יַשִּׂיגוּהוּ מַשִּׂיגֵי הַגּוּף. וְאֵין לוֹ שׁוּם דִּמְיוֹן כְּלָל:
Àni ma'amin bè'emunôh Shèlémôh, shêhaböré yithbôrakh shèmö einö guf, wè lö yashshighuhu mashshighéi ha-guf. Wè ein lö shùm dimyön kèlôl.

("Aku percaya dengan iman sepenuhnya bahwa Sang Pencipta - semoga diberkatilah nama-Nya , TUHAN bukanlah berbentuk jisim dan Dia bebas dari segala sesuatu yang bersifat materi, dan tidak ada sesuatu apapun yang dapat diserupakan dengan-Nya.")

Penjelasan Rabbi Moshe ben Maymon (w. 1204 M.) yang menyatakan bahwa TUHAN itu אינו גוף (eino guf), lit. "Dia tidak berwujud jisim" merupakan sebuah keyakinan kolektif dalam ajaran agama Yahudi. Penjelasan Rabbi Moshe ben Maymon (w. 1204 M.) sebagai ulama salaf generasi "Rishonim" merupakan penegasan aqidah salaf para rabbi pendahulunya, yang diteruskan dari para ulama salaf generasi awal, yakni generasi Tana'im. Kitab-kitab generasi Salaf era Tana'im itulah yang kemudian disebut sebagai kitab-kitab "Targumim" yang semuanya ditulis dalam bahasa Aram.

Dalam kitab Targum Onqelos karya Rabbi Aquila abad ke-1 M., Sefer Bereshit 17: 1-2 disebutkan penjelasan demikian.
והוה אברם בר תשעין ותשע שנין ואתגלי יי לאברם 
ואמר ליה אנא אל שדי פלח קדמי והוי שלים. ואתן קימי בין מימרי ובינך ואסגי יתך לחדא לחדא.
Wa hawoh Avrom bar tish'in u-tesha' shenin we itgeli ADONAI le Abrom wa amar leih Ana El Shaddai pelach qadomai w hewei shelim. We etten qeyomi beyn Meimri u-beynokh we ashgei yanokh lahado lahado.

("Tatkala Abram berumur 99 tahun memberikan wahyu kepada Abram dan berkata kepadanya: "Akulah El Shaddai. Mengabdilah kepada-Ku dan jadilah sempurna. Aku akan membuat perjanjian antara firman-Ku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak").

Dalam bahasa Aram, istilah אתגלי (itgeli), artinya "TUHAN mewahyukan" sebagai takwil atas kosa kata Ibrani ירא (yara), yang makna literalnya "DIA menampakkan diri." Demi menghindari kesan "tajsim", maka kitab Targum mengalihkan maknanya menjadi "TUHAN mewahyukan", dan sekaligus dipertegas bahwa yang bertemu dengan Abram untuk mengikat perjanjian bukanlah wujud fisik TUHAN, tapi Abram yang diikat perjanjian dengan firman TUHAN.

Itulah sebabnya ditegaskan dengan ungkapan מימרי (Meimri), lit. "firman-Ku" atau "hikmat-Ku." Ungkapan ביני ובינך (beyni u-beynekho), lit. "antara Aku dengan engkau" ditakwil dalam kitab Targum menjadi בין מימרי ובינך (beyn Meimri u-beynokh), artinya: "antara firman-Ku dengan engkau." Lihat Israel Drazin and Stanley M. Wagner. Onkelos on the Torah. Understanding the Bible: Genesis (Jerusalem: Gefen Publishing House, 2011), hlm. 93.



Sumber: Republika.co.id
loading...