Lalu, Bagaimana Nasib Anak-anaknya?

SAYA sangat bersyukur bisa bertemu orang-orang hebat di acara AnCoMs (Annual Conference for Muslim Scholars) yang diadakan oleh Kopertais IV. Di antara orang hebat itu adalah Prof. Kacung Marijan. Beliau hebat karena memiliki pengalaman yang lengkap sebagai akademisi dan birokrat. Saya menmba banyak ilmu dari beliau.

"Betul bahwa tidak mungkin mengelola birokrasi dengan gaya malaikat, tapi janganlah juga memakai gaya syetan," demikian salah satu kalimat yang dilontarkan dalam perbincangan informal kami. Mas Kacung, demikian saya memanggil beliau, benar-benar merasa tak nyaman dengan pola administrasi keuangan yang dilakukan oleh orang-orang rakus yang tak peduli halal haram itu. Lembaga yang dikelola dengan "gaya syetan" pastilah akan dikutuk oleh semua orang waras, dan nantinya akan erakhir dengan nasib buruk.

"Buat apa mengumpulkan uang haram, mau diapakan dan apakah tega diberikan kepada anak isteri? Lalu akan menjadi apa anak-anaknya kelak?" Demikian disampaikannya dengan tegas. Iya, benar. Kasihan anak-anak kita kalau tunuh dan jiwanya tumbuh dan berkembang dari sesuatu yang diharamkan Allah. Tak akan ada keberkahan di situ dan tak akan terbangun kebahagiaan hakiki.

Saya sesungguhnya sering membaca dan mendengar ungkapan yang sama dari orang dn sumber yang berbeda. Namun, mendengarnya dari orang yang pernah menjabat jabaan tinggi dengaan godaan yang besar dan tetap selamat adalah aesuatu yang bernilai beda. Beliau tetap ederhana dan bersahaja. Yang saya suka, beliau dermawan ilmu. Terimakasih senior, kami selalu menunggu ularan ilmu.

Bagi segenap pembaca catatan kecil ini, marilah kita berupaya semaksimal mhngkin menjauh dari syetan degan segala bentuk ayanya, menjauhkan diri juga dari menjerumuskan anak-anak kita dari jebakan syetan. Berikan makanan bergizi tinggi dan berstatus hukum halal. InsyaAllah, ank-anak kita akan menghargai kita sebagai orang tuanya, nantinya. Salam, AIM. [*]



Sumber: Inilah.com
loading...