Metode Istimbath Berbeda tapi Saling Menghormati

NAMUN yang menarik, meski masing-masing punya metode istimbath hukum yang terkadang berbeda, tetapi sebenarnya hubungan anterpersonal di antara mereka sangat dekat. Jauh dari gambaran sekte-sekte agama Kristen yang justru saling berbunuhan. Mereka justru saling berguru dan saling membanggakan guru dan muridnya. Dan yang terpenting, tidak ada satu pun yang melecehkan pendapat guru atau muridnya. Semua sangat menghormati bukan sekedar basa-basi, tapi langsung dari hati.

Adapun perbedaan pendapat di antara mereka memang sangat mungkin terjadi. Bukankah dahulu di masa nabi shallallahu 'alaihi wasallam sekalipun, seringkali para sahabat saling berbeda pendapat dalam menarik kesimpulan hukum. Kurang apa salehnya para sahabat itu? Tapi urusan berpendapat dalam masalah ijtihad, seorang Umar bisa saja tidak sependapat dengan ijtihad nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kecuali bila wahyu yang turun.

Bahkan para nabi utusan Allah, tidak luput dari perbedaan pandangan dalam masalah hukum. Mereka acap kali punya sudut pandang yang berbeda, meski sama-sama menerima wahyu dari Allah. Termasuk juga para malaikat yang maksum itu, banyak diriwayatkan mereka pun suka berbeda pendapat. Misalnya dalam kasus masuk surganya seorang penjahat yang telah membunuh 100 nyawa. Malaikat Rahman ingin membawanya ke surga, tapi malaikat azab ingin membawanya ke neraka. Malaikat pun bisa berbeda pendapat sesama mereka.

Maka kalau para sahabat mungkin berbeda pendapat, para nabi sering berbeda pendapat, bahkan para malaikat dimungkinkan berbeda pendapat, sangat manusiawi bila para imam mazhab masing-masing punya keistimewaan khas dalam menarik kesimpulan hukum atas jutaan butir nash-nash syariah. Semua sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan para imam itu, termasuk sosio-kultural mereka, kebiasaan, ketersediaan bahan baku, bahkan hasil-hasil temuan di bidang iptek.



Sumber: Inilah.com
loading...