Ketika Masyarakat Latin Memilih Islam

Muslim yang berasal negara-negara Amerika latin menemukan tujuan dalam Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muslim yang berasal negara-negara Amerika latin menemukan tujuan dan kedamaian ketika menganut iman yang baru. Khadijah Noor Tanju yang berasal dari Kolombia menemukan rasa tujuan dan komunitas baru sejak masuk Islam pada 2015.

Pun halnya dengan Luis Lopez yang berjuang melawan kegelisahan. Bersama-sama dengan putranya, mereka mengulang kata demi kata dalam bahasa Arab yaitu syahadat yang menjadi syarat yang diperlukan jika ingin menganut Islam.

"Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah," ujarnya bersama dengan sang anak di masjid yang pernah menjadi pusat komunitas Kuba seperti dikutip dari laman App, Selasa (3/12).

Sementara itu Lopez (41 tahun) yang pernah hampir meninggal dunia akibat kekerasan geng hampir 22 tahun lalu  mendapatkan masukan supaya datang ke masjid.

"Datanglah ke masjid, Anda akan merasa disambut," ujar pria yang juga sopir truk dan mantan petinju profesional dari North Bergen.

Dengan perjalanan relijius yang dia alami, Lopez dan putranya yang berusia 21 tahun kemudian bergabung dengan segmen populasi Latin yang menganut Islam dan jumlah orang yang pindah agama dari kristen atau katolik terus bertambah.

Pusat penelitian Pew, sekitar 8 persen dari semua orang dewasa Muslim Amerika adalah orang latin. Jumlah ini meningkat sekitar sepertiga dari 2011. Dalam wawancara, orang-orang Latin yang bertobat mengatakan bahwa mereka tertarik pada Islam karena pengabdian yang intens kepada Tuhan.

Tetapi hal ini gagal mereka temukan pada keyakinan sebelumnya. Di satu sisi pilihan ini seringkali tidak mudah karena harus memutuskan hubungan dengan keluarga dan pengasuhan mereka dalam keyakinan Kristen atau Katolik.



Sumber: Republika.co.id
loading...