Al-Qarawiyyan, Salah Satu Perpustakaan Tertua di Dunia

Perpustakaan al-Qarawiyyan hingga kini masih beroperasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perpustakaan al-Qarawiyyan didirikan pada 859 M di Fez, Maroko. Perpustakaan yang didirikan oleh Fatima El-Fihriya putri seorang imigran kaya dari Tunisia ini dianggap sebagai salah satu perpustakaan tertua di dunia.

El-Fihriya dikenal sebagai seorang sarjana dan wanita Muslim yang taat. Dia memutuskan mendedikasikan harta warisannya yang banyak untuk kemajuan pendidikan agama dan sains. Dia juga mendirikan pusat pendidikan dan perpustakaan.

Selain itu, El-Fihriya merawat manuskrip kuno tentang teologi, hukum, astronomi, dan tata bahasa yang berasal dari abad ketujuh. Buku-buku dan manuskrip di al-Qarawiyyan yang paling menonjol adalah Muqaddimah karya Ibn Khaldun dari abad ke-14 dan Alquran dari abad kesembilan yang ditulis dengan kaligrafi Kufik. Selain itu, ada sebuah manuskrip di Sekolah Hukum Islam Maliki yang ditulis seorang ahli hukum dan filsuf Spanyol, Ibn Rushd yang hidup di abad ke-12.

Dilansir di Muslim Heritage, Ahad (9/2), kompleks perpustakaan al-Qarawiyyan yang diperbesar dari abad ke abad saat ini meliputi masjid, perpustakaan, dan universitas. Menurut Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), Al-Qarawiyyan adalah lembaga pendidikan operasional tertua di dunia.

Banyak lulusan al-Qarawiyyan yang menjadi sosok terkenal di dunia. Di antaranya Ibnu Al Arabi seorang penyair dan filsuf mistik pernah belajar di sana pada abad ke-12. Sejarawan dan ekonom Ibn Khaldun pernah belajar di sana pada abad ke-14. Sementara di abad pertengahan, al-Qarawiyyan memainkan peran utama dalam melakukan transfer pengetahuan antara Muslim dan orang-orang Eropa.

Selama berabad-abad, bangunan perpustakaan ini rusak dan faktor lingkungan merusak isinya. Tetapi manuskrip sejarah di perpustakaan ini selalu dapat diakses oleh para sarjana dan akademisi.

Pemerintah Maroko telah menugaskan arsitek Kanada kelahiran Maroko, Profesor Aziza Chaouni untuk merenovasi dan merehabilitasi perpustakaan menjadi seperti aslinya. Chaouni yang mengajar di University of Toronto melakukan tugas yang halus dan ambisius untuk memulihkan fitur-fitur utama bangunan al-Qarawiyyan.

Chaouni harus membuat air mancur di halaman, menyusun ubin yang rumit, dan membuat kubah abad ke-12. Semua itu dilakukan agar bangunan al-Qarawiyyan sekarang terlihat semirip mungkin dengan aslinya di masa lalu. Perpustakaan sendiri telah melakukan digitalisasi naskah kuno sehingga publik bisa mengaksesnya. Sekitar 20 persen naskah kuno koleksi al-Qarawiyyan tersedia dalam format elektronik.

Pemulihan perpustakaan al-Qarawiyyan membutuhkan waktu selama empat tahun sampai benar-benar selesai. Kini udara di dalam ruangan perpustakaan juga dikontrol untuk menjaga keutuhan naskah-naskah kuno. Perpustakaan ini dibuka kembali untuk umum pada Mei 2016.



Sumber: Republika.co.id
loading...