Islam Bangkitkan Revolusi Pertanian

Masyarakat Islam membangun sistem irigasi dengan pola-pola baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada abad 7-8, agama Islam berkembang sangat pesat, mulai dari Asia, Afrika, hingga Eropa. Demikian juga khazanah ilmu pengetahuan Islam, termasuk bidang pertanian, telah mengalami revolusi hebat. Tercatat, dalam sejarah Islam, revolusi ini mengalir dari Timur ke Barat.

Hal yang menonjol dalam revolusi pertanian kala itu adalah dikenalnya banyak jenis tanaman baru dan peralatan pertanian. Pada buku Teknologi dalam Sejarah Islam karya Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill, disebutkan beberapa jenis tanaman yang mulai dikenal masyarakat Arab dalam revolusi itu, seperti padi, tebu, kapas, terong, bayam, semangka, dan berbagai sayuran serta buah-buahan lainnya.

''Penyebaran ini sungguh luar biasa, mengingat penyebaran tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu yang singkat. Terlebih lagi, tanaman-tanaman itu berasal dari daerah tropis yang tidak mudah ditanam di daerah yang lebih dingin dan kering (seperti di Jazirah Arab dan Afrika). Prestasi ini tak ada tandingannya hingga masa-masa setelahnya," tulis Al-Hassan dan Hill.

Pengenalan tanaman-tanaman baru itu diikuti pula dengan penemuan cara bercocok tanamnya. Sebelumnya, petani di kawasan Arab dan Afrika memulai musim tanam ketika musim dingin tiba. Sedangkan, pada musim panas, sawah mereka dibiarkan kosong dan mereka pun menganggur.

Model bercocok tanam seperti itu tidak dapat dipertahankan setelah revolusi pertanian terjadi pada era Islam. Karena, padi, kapas, tebu, terong, dan semangka hanya dapat tumbuh dan berbuah pada musim panas. Dengan demikian, irama agrikultur tahunan pun berubah total. Tanah dan tenaga yang dulunya menganggur ketika musim panas, sejak saat itu, bergerak lebih produktif.

Efek lainnya adalah ditemukannya sistem pengairan yang baru. Tanaman, seperti padi, tebu, dan kapas, memang memerlukan air dalam jumlah yang banyak. Sedangkan, sistem pengairan sebelum masa Islam, menurut Al-Hassan dan Hill, sama sekali sudah tidak memadai.

Hingga akhirnya, masyarakat Islam membangun sistem irigasi dengan pola-pola baru. Diciptakanlah teknologi pengangkatan air, distribusi air, serta cara-cara penyimpanannya. Sampai-sampai hampir di semua sumber air, seperti sungai, oasis, dan mata air, didirikan bangunan atau peralatan pengairan kebun dan sawah.

Di dekat Kota Madinah, terdapat Bendungan Qusaybah. Tingginya mencapai 30 meter dan panjangnya 205 meter. Bendungan ini dibangun kira-kira pada abad ke-7 atau 8 dan sisa-sisa bangunannya masih bisa disaksikan sampai sekarang.

Di Afghanistan, ditemukan tiga bendungan yang dibangun kira-kira tahun 998-1030 M. Salah satunya bernama Bendungan Mahmoud. Bendungan ini setinggi 32 meter dan panjangnya 220 meter. Bendungan pada masa Islam juga ditemukan di Spanyol, tepatnya di Sungai Guadalquivir dan Sungai Turia.

Di samping bendungan, di Kota Murcia, juga ditemukan kincir air yang sekarang dikenal dengan sebutan La Nora. Ada pula pompa air yang dikenal dengan nama Shaduf, Saqiya, dan Naura. Kedua jenis alat itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan pengairan sawah dan kebun serta kebutuhan air bersih masyarakat.

Alat pertanian

Revolusi pertanian pada zaman keemasan Islam tidak hanya berhasil membangun sistem irigasi yang canggih. Namun, juga mengembangakan peralatan-peralatan pertanian, seperti bajak dan garu. Seorang sejarawan bernama Al-Maqrizi menyebutkan bahwa di Mesir, sebelum para petani menanam tebu, mereka terlebih dahulu membajak sawah sebanyak enam kali. Bahkan, ada yang sampai sepuluh kali.

Rancangan bajak di Mesir dan kawasan Laut Tengah disesuaikan dengan sifat tanah, iklim, dan kelembaban setempat. Mata bajak dibuat tidak terlalu panjang sehingga tidak terlalu dalam saat memotong alur. Al-Hassan dan Hill mengatakan, rancangan bajak pada era Islam itu masih digunakan hingga sekarang di kawasan Timur Dekat dan Laut Tengah.

Peralatan lainnya adalah garu, yaitu alat yang bentuknya seperti sisir. Alat ini biasanya ditarik oleh binatang (sapi atau kerbau) setelah pembajakan. Alat ini berfungsi untuk memecahkan bongkahan tanah, meratakan tanah, dan menutupi benih.

Masyarakat Arab mengenal beberapa jenis garu, seperti al-mijar, al-mislafah, dan al-maliq. Al-mijar dan al-mislafah adalah balok dengan gigi-gigi untuk menggaru tanah. Al-mijar mempunyai dua lubang di ujung-ujungnya dan dua pasang tali pengikat. Sementara itu, pada balok, terdapat dua lubang untuk memasang roda kayu. Di bagian tengah al-mijar, terdapat kayu panjang untuk pegangan. Rancangan ini dipasang pada dua ekor sapi atau kerbau.

Sedangkan, garu jenis al-maliq adalah papan kayu lebar yang ditarik oleh sapi atau kerbau. Alat ini diberi beban untuk mendatarkan alur yang dibuat oleh mata bajak dan untuk menanami benih.

sumber : Harian Republika


Sumber: Republika.co.id
loading...