KH Ridwan Abdullah, Ulama Perancang Logu NU (2)

KH Ridwan Abdullah diminta menjelaskan soal logu NU.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keahlian KH Ridwan Abdullah dalam seni lukis tidak didapatkan dari bangku kuliah seperti halnya zaman sekarang. Bakatnya tersebut muncul secara alamiyah dari sebuah peristiwa yang terjadi setelah belajar di sejumlah pesantren.

Cucu Kiai Ridwan, Gus Saiful Halim pernah menceritakan bahwa setelah mondok di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Ridwan pernah bekerja di rumah orang Belanda yang merupakan seorang pelukis.

Suatu ketika, Kiai Ridwan menumpahkan tinta di kanvas lukisan orang Belanda tersebut tanpa disengaja. Kiai Ridwan pun gugup dan panik, tapi kemudian ia memberanikan diri untuk memperbaiki lukisan tersebut sebisa mungkin.

Setelah orang Belanda tersebut mengetahui kejaian itu ternyata tidak marah. Karena, hasil lukisan Kiai Ridwan terlihat bagus. Sejak itulah bakat seni melukis Kiai Ridwan mulai terlihat, sehingga ia pun akhirnya bisa membuat lambang organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keahliannya dalam melukis patut diteladani oleh generasi muda umat Islam. Di samping itu, ulama NU ini juga patut dijadikan teladan dalam mendakwahkan ajaran Islam, terutama semangat juangnya dalam mempertahankan nilai-nilai ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja).

Kiai Ridwan dikenal sebagai kiai yang rendah hati, baik dalam bermasyarakat maupun dalam berorganisasi. Pembawaannya bersahaja dan selalu berpenampilan dengan sederhana. Meskipun di rumah mertuanya tersedia beberapa kuda dan juga sepeda motor, Kiai Ridwan memilih berjalan kaki dengan membawa kitab.

Gemerlap harta tidak membuat Kiai Ridwan terlena. Bahkan, dalam pejuangannya ia rela menjual beberapa tokonyademi organisasi NU. Sedangkan kesehariannya disibukkan dengan beribadah kepada Allah. Hampir setiap malam beliau juga mengisi pengajian di mushalla ataupun masjid.
 



Sumber: Republika.co.id
loading...