Kisah Cinta Ibunda Nabi Musa

Nabi Musa dilahirkan dari kedua orang tua yang baik dan memiliki keteguhan iman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibunda Nabi Musa AS, Ayadzakhatu, merupakan wanita terhormat dari kabilah Qibthi di Mesir. Sikapnya yang mulia serta parasnya yang cantik membuat wanita yang satu ini banyak diperebutkan pemuda-pemuda dari kaum Ibrani.

Ayadzakhatu kerap disebut dalam Taurat dengan nama Yokhebed, sedangkan dalam kitab-kitab Nasrani namanya dikenal dengan sebutan Yukabad. Ayadzakhatu merupakan wanita yang memiliki beragama kelebihan, dia juga memiliki keprihatinan mendalam atas kemelut krisis, kesewenang-wenangan, dan kezaliman yang terjadi.

Dalam buku Ensiklopedia Wanita Alquran karya Imad al-Hilali disebutkan, meski Ayadzakhatu banyak diperebutkan para pemuda, namun hal itu tak membuatnya menjadi wanita yang sembarangan. Para pemuda Ibrani berlomba-lomba melamarnya, termasuk Imran bin Qahit.

Dengan mempertimbangkan keluhuran pekerti, kemuliaan agama, kekuatan akidah, dan kehormatan keluarganya, Ayadzakhatu menerima lamaran Imran bin Qahit. Di salah satu perkampungan Yahudi di Mesir kala itu, Ayadzakhatu melangsungkan pernikahannya dengan Imran bin Qahit.

Seiring berjalannya waktu dalam menjalani rumah tangga, sepasang suami-istri tersebut dikaruniai banyak keturunan. Mereka dikaruniai anak laki-laki dan anak perempuan, termasuk  Nabi Musa AS. Allah memang telah menjaga garis keturunan Musa berasal dari orang tua yang baik, yang memiliki budi pekerti, keteguhan iman, serta kesalehan kepada Allah SWT.



Sumber: Republika.co.id
loading...