Mengapa Alquran Gunakan Kata Kulit untuk Artikan Manusia?

Alquran menyebut manusia dengan kata basyr yang berarti kulit.

REPUBLIKA.CO.ID, Alquran menggunakan beberapa istilah untuk manusia seperti, al-basyar, al-ins, al-insan (bentuk pluralnya an-nas) dan bani Adam. Dalam Alquran, kata al-basyar digunakan tidak kurang dari 36 kali; al-insan kurang lebih 65 kali, an-nas kurang lebih 190 kali, al-ins kurang lebih 19 kali dan selalu dipasangkan dengan kata-kata al-jin, sedangkan bani Adam digunakan tidak kurang dari tujuh kali.

kata 'basyar' secara lafdziah berarti 'dhahir al-jild' (kulit luar), 'hasan wa jamal' (tampan dan elok), berarti 'akala' (makan) seperti dalam kalimat, 'basyara al-jarad al-ardla' (seekor belalang makan tanam-tanaman yang tumbuh di atas bumi), 'basyara', kata-kata 'ba' dibaca panjang, berarti 'lamisat basyaratuhu basyarataha' artinya, kulitnya (pria) menyentuh kulitnya (wanita).

Semua makna di atas merupakan simbol dari apa yang berkaitan dengan organ fisik lahiriah. Persentuhan kulit seseorang dengan orang lain terjadi pada organ lahiriah, apa yang dimakan seekor binatang atau seseorang adalah sesuatu yang fisik, tampan dan elok menunjuk kepada wajah seseorang seperti ketika kita mengatakan, pria itu tampan, gadis itu elok. Kata 'basyar' berarti manusia dalam konotasi organ-fisik lahiriah.

Dalam Alquran, kata basyar yang tercantum dalam berbagai surat lebih menekankan dimensi lahiriah ini. Di antara ayat yang menyebut 'basyar' adalah surah ar-Rum (20), surah al-Hijr (33), surah al-Kahfi (110), surah Ali 'Imran (47).

Kata-kata 'basyar' (manusia) dalam ayat ini berdimensi lahiriah (organ fisik).  Ayat pertama berbicara tentang bahan dasar bagi basyar, yakni tanah liat. Ayat kedua penolakan Iblis secara eksplisit untuk sujud dalam arti memberi hormat kepada manusia yang hanya diciptakan dari lumpur.

Sedangkan, ayat ketiga berbicara tentang kebutuhan-kebutuhan lahiriah seorang Nabi Muhammad saw yang memperoleh wahyu dari Allah. Rasulullah Muhammad Saw menyatakan, bahwa ia hanya manusia (basyar) seperti yang lain, yang juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan fisik, meskipun Rasulullah memperoleh wahyu dari-Nya.

Inilah dimensi ruhaniah-batiniah yang menjadikan dia berbeda dari lainnya. Ibarat seorang dokter dengan seorang pasien. Pada sisi lahiriah, kedua-duanya sama (basyar) dan memiliki kepentingan-kepentingan fisik, namun ruhaniah-batiniah-mental-intelektual bisa jadi berbeda.

sumber : Antara


Sumber: Republika.co.id
loading...