Perintah untuk Terus Mengagumi Istri

Mencintai istri adalah kesempurnaan dari cinta suami.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, dalam kitabnya yang berjudul Terapi Hati, menyebutkan, mencintai istri bukan sesuatu yang tercela. Sebaliknya, cinta kepada istri adalah fenomena atas kesempurnaan dari cinta suami.

Allah telah memperkuat cinta itu atas hamba-hamba-Nya, seperti difirmankan dalam Alquran surat Ar-Rum ayat 21:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dan jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."

Menurut Ibnu Qayyim, Allah menjadikan wanita sebagai istri untuk ketentraman laki-laki. Hatinya menjadi tenteram karena istrinya. Allah menciptakan cinta di antara keduanya. Kecintaan yang murni, yaitu kasih sayang yang memiliki banyak rahmat.

Allah berfirman tentang suatu rahasia hikmah di balik sebutan sesuatu yang telah dia halalkan dan haramkan. Seperti firmannya dalam Alquran surat An-Nisa ayat 26-28:

"Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran) Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah."

Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Jabir RA, Nabi Muhammad SAW melihat seorang wanita, maka ia datang kepada Zainab (istrinya), lalu melaksanakan hajat dengannya. Beliau berkata, "Sesungguhnya wanita datang dalam rupa setan, pergi pun dalam rupa setan. Bila kalian melihat seorang wanita yang mengagumkan maka segeralah datangi istrimu, maka sesungguhnya itu dapat menolak serangan nafsu."

Menurut Ibnu Qayyim, hadis di atas menunjukkan adanya hikmah. Yaitu, perintah agar terus mengagumi istrinya yang memang dikaruniakan kepadanya, demi fitrah biologis sebagai obat yang paling mashlahat. Sebagai dermaga untuk melaksanakan kebutuhannya bersama wanita yang ia cintai dengan segenap kesucian.

Ibnu Majah menyebutkan sebuah riwayat yang marfu (bersumber dari Nabi), "Tiada (wahana) yang dapat dilihat bagi dua orang yang salin bercinta selain melakukan nikah."



Sumber: Republika.co.id
loading...