Rasulullah SAW Jelaskan Keterkaitan Lisan dan Iman Seseorang

Iman seseorang bisa berdampak pada terjaga atau tidaknya lisan.

REPUBLIKA.CO.ID, Islam mengajak umat agar senantiasa menjaga lisan. Dengan begitu, lisan menjadi selalu digunakan untuk sesuatu yang baik, tidak bertentangan dengan kehendak Allah SWT. 

Rasulullah SAW bersabda, ''Lisan orang yang berakal muncul dari balik hati nuraninya. Maka ketika hendak berbicara, terlebih dahulu ia kembali pada nuraninya. Apabila ada manfaat baginya, ia berbicara dan apabila dapat berbahaya, maka ia menahan diri. Sementara hati orang yang bodoh berada di mulut, ia berbicara sesuai apa saja yang ia maui.'' (HR Bukhari-Muslim).

Orang-orang yang beriman, dalam menggunakan lisan hendaknya tepat sasaran dan waktu. Artinya, dalam berbicara harus terlebih dahulu memperhatikan sasaran pembicaraan serta memilih saat yang tepat, sehingga dapat efektif. 

Ayat, hadis, dan peristiwa tersebut menegaskan betapa besarnya Islam memberikan perhatian terhadap pemeliharaan fungsi lisan. Islam memandang urusan lisan sebagai masalah serius.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan lisan. Pertama, lisan memiliki keterkaitan langsung dengan keimanan yang merupakan dasar paling penting bagi kehidupan manusia. 

Kedua, keberadaan lisan dan perilaku harus selaras agar kita terhindar dari murka Allah. Ketiga, keharusan untuk mengambil sikap diam ketika pembicaraan tidak memuat kebenaran, harus ditaati. 

Keempat, bertanya kepada hati nurani, dan memilih kata yang tepat serta sesuai sebelum berbicara, mutlak diperlukan. Segala hal yang terucap dari lisan merupakan simbol atau cerminan diri penuturnya.

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada seorang Badui yang selalu berbicara berlebihan. Pesan itu berbunyi, ''Sesungguhnya Allah tidak menyukai pembicaraan yang berlebihan. Maka Allah mencerahkan wajah seseorang yang berbicara menurut kebutuhan saja.'' (HR Muslim).

Lisan adalah media komunikasi manusia yang menjembatani antara seseorang dan yang lainnya sehingga mampu memahami maksud yang disampaikan dengan perantara indera wicara. Menggunakan lisan pun perlu etika. Allah SWT berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan.'' (QS ash-Shaaf: 2-3)

sumber : Harian Republika


Sumber: Republika.co.id
loading...