Sisa Malu Ahli Maksiat dan Mimpinya Bertemu Rasulullah SAW

Ahli maksiat malu untuk meminta doa Rasulullah SAW untuk maksiatnya.

REPUBLIKA.CO.ID,Dalam perjalanan manusia sebagai hamba untuk mendekat pada Sang Kekasih, Allah SWT, rasa malu baru merupakan tangga yang pertama. Masih sangat jauh dari perwujudan rasa cinta yang semestinya.   

Suatu hari, demikian dikisahkan, seorang lelaki mendatangi Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M). Orang tersebut adalah lelaki yang banyak bergelimang maksiat. Tiba-tiba dia datang ke majelis pengajian Imam Hanbali untuk menceritakan mimpinya. Dalam mimpi itu, kata lelaki itu, dia merasa tengah berada dalam kerumunan manusia yang ada di hadapan Rasulullah SAW. 

Rasul tampak berada di tempat yang agak tinggi. Satu per satu, orang-orang mendatangi Rasul dan berkata, "Doakan saya ya Rasulullah." Rasul pun mendoakan orang-orang itu. "Akhirnya tinggal aku sendiri," kata lelaki yang menceritakan mimpinya itu. "Aku pun sangat ingin mendatangi beliau, tapi aku malu atas berbagai maksiat yang telah kulakukan. Rasul lalu berkata,"Mengapa kau tidak datang kepadaku dan minta kudoakan?" "Wahai Rasulullah," kata lelaki itu, "Aku terhalang rasa malu akibat perbuatan-perbuatan burukku di masa lalu." "Kalau engkau merasa terhalang rasa malu, berdirilah dan mintalah agar aku mendoakanmu. Bukankah engkau tak pernah menghina para sahabatku," jawab Rasul dalam mimpi tersebut.  

Mimpi itu adalah jalan yang mengantarkannya menuju pertobatan dengan menemui Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad berkata pada lelaki itu untuk menyebarkan kisah tersebut agar memberi kemanfaatan pada orang-orang lain.    

Tapi, apa yang membuat kita dapat mencapai tangga ke-99 bila tangga pertama pun kita tak sanggup menapakinya? Bukankah kita tak melupakan petunjuk Rasulullah bahwa "Malu adalah sebagian dari iman." Rasul sekalipun menggenggam rasa malu di hadapan Allah Sang Mahapenyayang. Setidaknya itu tercetus dalam kisah Mi'raj, saat Muhammad SAW menerima perintah secara langsung agar umatnya menegakkan salat. Konon, mula-mula Allah memerintahkan salat 50 kali dalam sehari. 

Rasulullah sempat menyanggupi, namun Rasul lain yang ditemui dalam perjalanan gaib tersebut mengingatkannya bahwa tugas itu terlalu berat bagi umat Muhammad. Rasul pun meminta keringanan sehingga tugas diturunkan lima kali. Masih terlalu berat, Rasul meminta keringanan lagi. Demikian terus-menerus hingga kewajiban salat hanya lima kali sehari. Saat itu, Muhammad SAW diingatkan bahwa lima kali sehari masih terlampau berat. Namun, Rasul telah malu hati untuk kembali mengajukan keringanan pada Allah SWT.  

sumber : Harian Republika


Sumber: Republika.co.id
loading...