Bisakah Jin Diperintah Manusia?

Terkait jin diperintah manusia, Ibnu Taimiyah membagi keadaan itu dalam tiga kasus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah ulama berpendapat, manusia dan jin sama-sama dibebani dengan hukum taklifi (kewajiban dan larangan). Oleh karena itu, para jin pun berkewajiban menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya.

Lihat, misalnya, Alquran surah Adz-Dzariyat ayat 56. Artinya, "Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

Para jin yang menjalankan perintah tentu saja akan mendapatkan balasan pahala dari Allah. Yang mengerjakan larangan-Nya juga akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Dalam surah ar-Rahman terdapat sejumlah pernyataan Allah SWT yang berulang-ulang tentang "kamu berdua mendustakan" (tukazziban). Yang dimaksud di sini adalah jin dan manusia.

Ketika jin diperintah

Seorang manusia ada yang pernah memerintah jin. Ini terjadi pada zaman Nabi Sulaiman AS. Di masa Nabi Sulaiman AS berkuasa, pernah sebagian jin atas izin Allah SWT diperintahkan untuk bekerja di bawah kekuasaan putra Nabi Daud AS itu.

Mereka berbuat apa yang dikehendaki Nabi Sulaiman, seperti membuat gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besarnya seperti kolam, dan periuk yang tetap berada di atas tungku. Lihat surah Saba ayat 12-13.

Peristiwa Nabi Sulaiman yang memberikan tugas kepada kaum jin ini juga menunjukkan, para jin mempunyai keterampilan dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ilmu yang mereka miliki juga sangat terbatas. Misalnya, mereka baru mengetahui bahwa Nabi Sulaiman wafat setelah jasadnya tersungkur karena tongkatnya dimakan rayap.

Sejumlah ulama juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW juga memperoleh anugerah yang sama. Beliau juga dapat menundukkan jin.

Dalam suatu kesempatan, beliau pernah bermaksud mengikat salah satu jin yang menganggu ketika sedang shalat. Namun, maksud itu beliau batalkan. Sebab, Nabi SAW mengingat doa permohonan Nabi Sulaiman AS kepada Allah. Putra Nabi Daud itu meminta kepada-Nya agar dirinya mendapatkan anugerah yang tidak diperoleh seseorang pun sesudah beliau.

Bagaimana dengan manusia biasa?

Ibnu Taimiyah membagi manusia yang mampu memerintah jin pada tiga tingkat. Pertama, memerintah jin sesuai dengan yang diperintahkan Allah, yakni beribadah hanya kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya. Siapa yang melakukan ini, ia termasuk wali Allah yang paling utama.

Kedua, memanfaatkan jin untuk tujuan-tujuan mubah (bukan yang dilarang bukan pula yang dianjurkan agama) sambil memerintahnya untuk melaksanakan kewajiban dan menghindari larangan Allah. Orang seperti ini bagaikan raja. Kalaupun ia termasuk wali Allah, peringkatnya di bawah peringkat pertama.

Ketiga, menggunakan jin untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti syirik dan membunuh. Manusia yang termasuk kategori ketiga ini menurut Ibnu Taimiyah sebenarnya telah tertipu oleh setan.

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi, seorang ulama al-Azhar kontemporer, berpendapat, Allah SWT dengan Qudrat-Nya mampu menjadikan jenis makhluk yang rendah memperalat dan mengatasi jenis makhluk yang tinggi.

Syekh asy-Sya'rawi menambahkan bahwa kemungkinan yang tergambar dalam benak menyangkut kekuasaan manusia atas jin adalah terhadap jin yang baik atau yang jahat.

Jin yang baik sebagaimana manusia yang baik. Menurut asy-Sya'rawi, mereka tidak mungkin rela diperalat oleh siapapun. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa tidak ada jin yang ditundukkan atau diperalat manusia, kecuali yang jahat.

sumber : Pusat Data Republika


Sumber: Republika.co.id
loading...