Di Cina, Ibnu Batutah Sudah Melihat Shalat Jumat

Cina disebut dengan Thawalishi yang diperintah oleh seorang Ratu keturunan Tartar

REPUBLIKA.CO.ID,Pengelana Muslim Ibnu Batutah mengunjungi banyak tempat di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali Cina. Pemilik nama lengkap Abu Abdillah Muhammad Ibn Abdillah ibn Ibrahim Al Thanji ini berangkat dari Tangier, Afrika Barat pada 2 Rajab 725 H/1325 M.  Dia berkeliling dunia selama 31 tahun termasuk Cina. 

Dalam pelayaran ke Cina dari India pada 743 H/1342 M, Ibnu Batutah menjadi utusan Sultan Muhammad Tughluk. Sultan tersebut menguasai anak benua India yang berkedudukan di Delhi. Dia mengunjungi Cina pada persinggahan terakhir saat menjelang pengujung kekuasaan Dinasti Yuan (1279-1368). Ketika itu, Cina disebut dengan Thawalishi yang diperintah oleh seorang Ratu keturunan Tartar (Turk). Ratu tersebut menggantikan saudaranya yang tewas dalam pertempuran. 

Kisah perjalanan Ibnu Batutah dimuat dalam dua jilid buku tebal berjudul Rihlat Ibni Bathuthah (perlawatan Ibnu Bathuthah). Dalam perkembangan Islam di Tiongkok (Cina), Dr Ibrahim Tieng Yien Ma mengutipnya dari jilid 2 halaman 158-172. 

Ibnu Bathuthah tiba di negeri Thawalishi setelah berlayar tujuh belas hari. Angin yang berembus membantu dia untuk tiba di negeri Shin (Cina atau Tiongkok). Wilayah itu sangat luas. Hasil buminya amat banyak yakni berbagai jenis buah-buahan, tanaman, emas, dan perak. Sampai-sampai, Ibnu Bathuthah menyebut negeri tersebut tidak mempunyai tandingan dengan negeri manapun. 

Ibnu Bathuthah juga menceritakan tentang sebuah sungai besar yang mengairi negeri tersebut. Sungai itu dinamakan Ab-Hiyat atau Air Hidup. Nama lainnya yakni Sungai Cokelat (Hwang Ho) seperti nama sungai di India (Gangga). Sungai itu berhulu dari pegunungan pada arah Khanbalik (utara) bernama Kuh Buznah (Ala Shan di Mongolia Dalam). 

Melayari sungai itu, dia  pun melintasi pertengahan Cina hingga enam bulan lamanya. Ibnu Bathuthah melintasi sekian banyak negeri dan pertanian, perkebunan dan pasar (kota). Dia membandingkannya dengan Sungai NIl di Mesir. Namun, menurut Ibnu Bathuthah, daerah tersebut lebih ramai dan makmur. 

Ibnu Bathuthah menulis, penduduk Cina melakukan pemujaan di depan patung-patung. Mayat jenazah dibakar seperti kebiasaan orang Hindu di India. Meski demikian, setiap kota di Cina ada perkampungan orang Islam. Masjid-masjid untuk digunakan shalat Jumat tersebar. Kaum Muslimin disana terpandang dan dihormati. 

Dia mengungkapkan, penduduk Cina amat makmur hidupnya. Akan tetapi, mereka tidak memperlihatkan kehidupan yang mewah. Seorang saudagar besar yang kaya raya bahkan mengenakan pakaian kasar dari kapas. Menurut Ibnu Bathuthah, saudagar Cina lebih suka mengumpulkan perabotan-perabotan seperti mangkok, piring yang terbuat dari emas dan perak. 

Keunikan lainnya, Ibnu Bathuthah menyaksikan jika penduduk Cina tidak menggunakan uang emas (dinar) maupun perak (dirham). Mereka bertransaksi dengan sepotong uang kertas berukuran tapak tangan. Uang tersebut dibubuhi cap dari Maharaja Diraja. Lembaran yang memiliki 25 potong emas disebut Balisht yang bermakna dinar. 

sumber : Dialog Jumat


Sumber: Republika.co.id
loading...