Jalan Keluar Ilahiyah di Tengah Kebuntuan Corona

Allah SWT menyiapkan jalan keluar terbaik bagi hamba-Nya yang ikhlas.

REPUBLIKA.CO.ID, *Ustadz Bobby Herwibowo

Pernahkah Anda mengalami kebuntuan? Gak tahu harus melakukan apa? Itu yang saya alami seharian. Harusnya dalam masa karantina ini saya berjanji menulis setiap hari. Memberi solusi atau sisi terang bagi para sahabat yang sempit dan gelap karena masalah covid-19 ini. 

Namun apa daya, sampai sore pun saya tak mampu menulis apapun. Habis zhuhur tadi, istri menanyakan sudah berapa artikel yang sudah saya tulis? Jawaban saya, buntu! 

Saya tahu bahwa dalam menangani corona ini banyak yang alami kebuntuan: para pemimpin, pengusaha, petugas medis, pasien, pedagang, karyawan, orang tua, dan banyak lagi. Otak tak mampu lagi untuk berpikir mencari jalan keluar. Tangan dan kaki tak berdaya untuk halau masalah yang datang. Berbagai macam usaha dicoba tetap tak mampu untuk atasi masalah.

Tak ubahnya dengan usaha tiga anak muda ini, buntu. Dikabarkan dalam sebuah hadits muttafaq alaihi, bahwa Rasulullah SAW menceritakan tentang kisah tiga orang anak muda. Saat hujan turun, mereka berteduh di sebuah gua.

Rupanya takdir Allah SWT terjadi, batu besar jatuh tepat menutup pintu gua tempat mereka berlindung. Dengan sekuat tenaga mereka gotong-royong untuk dorong batu besar tersebut agar mereka bisa keluar. Namun apa daya, mereka kelelahan. Duduk tak berdaya, padahal sedikitpun batu itu tidak bergeser. Mereka pun tidak bisa keluar.

Suasana menjadi gelap, hati frustasi, tenaga habis. Itulah yang mereka rasakan. Buntu. Namun tetiba salah seorang dari mereka mengangkat tangan berdoa, 

"Ya Allah, hamba adalah seorang peternak yang memiliki banyak hewan. Setiap hari hamba memerah susu. Sudah menjadi keseharian hamba lakukan bahwa susu tidak akan hamba berikan atau jual kepada siapapun kecuali hamba berikan terlebih dahulu kepada kedua orang tua. Namun hari itu hamba menggembala hewan terlalu jauh, hingga pulang sudah kemalaman. Hamba bawa susu itu ke rumah orang tua. Namun malam itu hamba dapati, kedua orang tua sudah tertidur. Hamba sungkan untuk bangunkan mereka. Hamba berdiri di hadapan ranjang mereka sambil memegang susu. Hamba tatapi tidur mereka tanpa letih. Saat kedua orang tua terjaga, hamba berikan susu itu dan kedua orang tua meminumnya dengan begitu nikmat. Ya Allah....., jika itu hamba lakukan karena ikhlas mencari ridha-Mu, selamatkan kami dari gelap gua ini!"

Seperti ijabah doa, pintu gua terbuka sedikit namun sayang mereka belum bisa keluar. Sadar akan hal ini, maka pemuda yang lain pun melakukan hal yang sama!

"Ya Allah..., hamba memiliki seorang sepupu perempuan yang cantik. Hamba ingin sekali memilikinya. Suatu hari ia datang dan meminjam sejumlah uang. Dan saya berikan pinjaman itu kepadanya dan kami tentukan tanggal jatuh temponya. Rupanya ia tak bisa bayar utang. Ia datang meminta maaf, lalu akal bejadku berbisik, bagaimana kalau kita tidur berdua (berzina) sebagai bayarannya. Ia pun setuju! Kami sudah berada dalam kamar, dan kami pun sudah tidak berpakaian. Nafsu syahwat begitu merasukiku. Namun tetiba sepupuku tadi berkata bahwa tidak pantas menikmati minuman dengan merusak segelnya. Maksudnya tidak pantas melakukan hubungan ini bila bukan melalui pernikahan. Aku pun tersentak kaget dan tersadar. Aku segera berpakaian dan aku tinggalkan perbuatan zina itu. Ya Allah..., andai aku lakukan itu karena ikhlas dan takut kepada Mu... selamatkan kami dari perut gua ini!"

Lalu pintu gua itu kembali bergeser terbuka, namun mereka bertiga masih belum bisa keluar.

Pemuda ketiga pun lalu lanjut berdoa, "Ya Allah, aku adalah seorang pengusaha. Aku punya karyawan dan pesuruh yang banyak.  Seorang karyawan ku pernah pergi sebelum ia ambil upah. Informasi tentang nya sudah dicari, namun tetap saja ia tak bisa ditemukan. Upah yang belum ia ambil saya belikan hewan ternak. Semakin lama hewan-hewan itu bertambah banyak. Suatu hari mantan karyawan itu datang dan menagih upahnya tempo hari. Aku katakan kepadanya bahwa semua hewan ternak yang banyak itu adalah upahnya. Ia tak percaya dan mengira aku mengoloknya. Lalu aku persilakan ia bawa semuanya, dan ia bahagia kegirangan karenanya... Ya Allah, jika aku lakukan hal itu karena ikhlas mencari ridha-Mu, selamatkanlah kami dari gelapnya gua ini..."

Usai doa ketiga ini, mulut gua atas izin Allah terbuka, dan mereka bertiga pun selamat bisa keluar!

Hikmah dari kisah ini adalah doa dan keikhlasan, sahabat! Dalam menghadapi fase genting saat ini perbanyaklah berdoa. Libatkan energi langit yang maha dashyat yaitu pertolongan Allah SWT. Dan melalui kisah ini kita mengerti bahwa masing-masing pemuda tadi berdoa dengan amal terbaik yang pernah mereka lakukan. Seraya mereka berkata, Ya Allah, jika aku lakukan itu karena ikhlas mencari ridho-Mu selamatkanlah kami....

Kini, renungkanlah apa amal terbaik yang pernah kita lakukan seumur hidup? Bayangkanlah dan ucapkanlah amal hebat itu dalam doamu sahabat, dan katakanlah dengan penuh kekhusyukan, "Ya Allah, jika aku lakukan amal itu karena ikhlas mencari ridha Mu... selamatkan kami dari bahaya virus corona!"

Semoga kita semua tidak lagi mengalami kebuntuan dalam masalah ini. Saling mendoakan ya sahabat!



Sumber: Republika.co.id
loading...