Menjaga Kemanusiaan

Kita perlu bersama melawan Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ina Salma Febriany

Sebagai agama yang tidak hanya mengajarkan ritual beribadah semata, Islam juga memperhatikan aspek-aspek penting yang harus dilakukan oleh segenap pemeluknya— misalnya tata cara interaksi sosial antar sesama manusia dan pentingnya menjalani pola hidup bersih sehat. Poin pertama jelas, interaksi sesama manusia baik sesama agama maupun lintas agama bertujuan menjalin tali kasih sayang (silah-arrahim/ silaturrahim) untuk menyatukan beragam perbedaan. Sedangkan poin kedua, Islam betul-betul mengajarkan cara bersuci dengan benar baik ketika memiliki hadats kecil maupun besar dan juga kewajiban berwudhu sebelum melaksanakan shalat. Oleh karenanya, bab thaharah (bersuci) menjadi bab inti dan sangat penting yang dibahas dalam beragam kitab fiqh.

Selain isyarat wudhu menjadi satu-satunya diajarkan langsung  dalam Alqur'an surah Al-Maaidah 7: 6, tatanan hidup bersih juga diajarkan oleh Rasulullah Saw dalam beragam sabda beliau. Misalnya anjuran mencuci tangan selepas bangun tidur dan mau makan, "Cucilah tanganmu ketika bangun tidur, karena engkau tidak tahu kemana tangan  itu ketika engkau terlelap," (HR. Bukhari) atau dalam hadits terkemuka lainnya, "Cucilah tanganmu sebelum makan, sebab itu mengandung keberkahan," (HR. Muslim) dan masih banyak lagi. 

Tuntunan yang diberikan Rasulullah Saw pada umatnya tentu bukan perkara sederhana. Mencuci tangan; meski terdengar sepele dan mudah menjadi vital dan krusial mengingat tangan merupakan salah satu anggota tubuh dari pusat aktivitas manusia. Sebab intensitas yang sering digunakan itu, beragam jenis kuman, bakteri, virus tentu sangat mudah tumbuh dan berkembang biak jika seseorang tidak rajin memerhatikan kebersihan dirinya sendiri. Penyebaran penyakit yang dimulai dari tangan akhirnya bisa memunculkan beragam penyakit bukan saja untuk diri sendiri melainkan bisa menularkan sesama.

Kita bisa menyaksikan bahwa sejarah mengukir dengan sangat apik beragam penyakit yang muncul jauh sebelum Corona Virus Disease 2019 (CoVid19) bertebaran merajalela. Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sejarah mencatat dalam uraian singkatnya, dunia pernah mengalami tigakali pandemic (pandemi) akibat wabah mematikan: pertama, Wabah Yustinianus (plague of Justinian) 541-542 M. Kedua,  Maut Hitam (Black Death) yang terjadi 1347-1351 M. ketiga, Wabah Bombay (Bombay plague) sekitar tahun 1896-1897 M. selain itu, pandemic abad ke-6 terkait dengan kematian kurang lebih 25 ribu sahabat Nabi.

Refensi lain mencatat, ada lima penyakit mematikan yang terjadi melanda dunia. Pertama, Flu Spanyol (1918-1919), 500 juta korban Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), flu Spanyol merupakan pandemi penyakit influenza mematikan yang meluas dalam kurun waktu 1918 hingga 1919. CDC memperkirakan, sekitar 500 juta individu atau sepertiga dari populasi dunia terinfeksi virus ini dan menyebabkan sedikitnya 50 juta kematian di seluruh dunia.

Kedua, Cacar (10.000 SM-1979), 300 juta korban Dilansir dari National Geographic Indonesia, para ahli percaya bahwa pandemi tertua ini telah mengurangi sebagian populasi dunia. Muncul sejak 300 tahun sebelum masehi, virus ini diperkirakan telah memakan lebih dari 300 juta korban jiwa.

Ketiga, Campak (abad 7 SM-1963), 200 juta orang Sebagaimana cacar, pandemi campak juga sudah dikenal di masa sebelum masehi. National Geographic Indonesia menyebut campak sebagai salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia dengan korban jiwa mencapai 200 juta orang di seluruh dunia.

Keempat, Black death (1340-1771), 75 juta orang Memakan 75 juta korban di seluruh dunia, penyakit hitam atau yang lebih populer disebut sebagai black death disebabkan oleh bakteri bernama Yersinia Pestisini. Penyebarnya adalah kutu binatang-binatang pengerat, terutama tikus atau marmut. Health.com menulis bahwa pandemi ini juga menyebabkan penyakit pes yang mewabah di daratan Eropa, pada abad ke-14 dan mmebunuh 60% populasi. Hingga kini, penyakit pes ini banyak ditemukan di pedesaan di wilayah Amerika bagian barat, dan lebih umum ditemukan di Afrika dan Asia.

Kelima, AIDS (1981-sekarang), 25-40 juta Menjadi momok bagi komunitas global hingga saat ini, penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penyakit ini menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya dan membuatnya rentan terhadap segala virus dan bakteri. Gejala medis terlihat pada penderita AIDS adalah infeksi pada organ paru-paru, yang selanjutnya dinamakan Pneumonia pneumocystis (PCP).

Sumber-sumber Arab mencatat dengan baik bagaimana Nabi Muhammad Saw dan para sahabat menyikapi pandemic, bukan dengan menantangnya atas nama Tauhid, atau atas nama "Kami tidak takut pandemic, kami hanya takut kepada Allah", tetapi justru dengan mengajarkan bahwa esensi agama adalah menjaga kemanusiaan. Itulah tauhid yang sesungguhnya, tulis Oman.

Ketika pemahaman beragama tidak dengan sadar, utuh dan matang, maka seseorang dengan mudah membenturkan takdir dan timbulnya wabah itu sendiri. Begitupun dengan negara kita tercinta ini. Wabah memang didatangkan dari Allah yang Maha Menetapkan, namun tetap, manusia tidak boleh saling menyalahkan— bahkan lebih dari itu, mereka harus berikhtiar sekuat tenaga untuk menghentikan penyebaran pandemic tersebut, demi menjaga kemanusiaan. Itulah esensi beragama yang sebenarnya.

Tentu, kita tidak ingin apa yang dialami Negara Eropa terjadi di Indonesia. Dimana Eropa pernah kelam akibat sikap fanatik sebagian umat beragama dalam menyikapi the Black Death. Saat otoritas Eropa kehabisan ide atasi wabah yang semakin hari kian meluas, masyarakat menjadi putus asa, dan mulai mengaitkan bahwa umat Yahudi adalah penyebabnya hingga Tuhan murka. Konflik pun terjadi dan tidak bisa dibendung lagi, akhirnya ribuan Yahudi dipersekusi.

Menarik apa yang ditulis oleh profesor sosiologi di Rice University, Amerika Serikat, yang juga merupakan seorang penulis buku The Humanity of Muhammad: A Christian View dan Islam in America: Exploring the Issues, Craig Considine, baru-baru ini menulis sebuah opini di Newsweek yang berjudul Can The Power of Prayer Alone Stop A Pandemic Like The Coronavirus? Even the Prophet Muhammad Thought Otherwise.

Considine Craig, seorang Kristiani yang sangat mengagumkan sisi-sisi manusia dan kenabian Rasulullah Saw dalam menghadapi wabah pada zaman beliau tertarik untuk berjihad melalui tulisan untuk rakyat Amerika (juga tentunya kita semua rakyat Indonesia) bahwa bukan hanya do'a dan  berpasrah yang bisa  dilakukan  dalam mengatasi pandemic ini—namun juga harus ikhtiar (fisik dan ruhani) demi  menghentikan penyebaran virus ini.

Di awal artikelnya, Craig Considine mengutip pendapat dua ahli, yaitu ahli imunologi Dr. Anthony Fauci dan wartawan medis Dr. Sanjay Gupta, yang mengatakan bahwa kebersihan dan karantina yang baik, atau praktik isolasi dari orang lain, dengan harapan mencegah penyebaran penyakit menular, adalah alat yang paling efektif untuk membendung persebaran Covid-19.

Namun akhirnya, Craig menyadari bahwa resep dua ahli di atas bukanlah hal baru dan orisinal. Tips-tips yang diberikan para ahli telah lebih dulu disampaikan oleh Rasulullah ratusan ribu tahun yang lalu. Salah satunya? Tentu dengan lebih rajin mencuci tangan seperti yang telah tertulis di atas. Craig Considine mengutip sabda Nabi yang berbunyi, "Jika engkau mendengar wabah penyakit di suatu negeri, jangan memasukinya; tetapi jika wabah itu menyebar di suatu tempat saat engkau berada di dalamnya, jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari). Masya Allah!

Pandangan Craig tentang esensi doa yang penting namun akan berefek setelah manusia juga berikhtiar menjaga kesehatan dan kebersihan diri, dikuatkan pula oleh pemikiran Oman Fathurrahman. Lebih lanjut, ia menulis bahwa sebagian sarjana besar Muslim abad pertengahan juga pernah mengalami wabah atau thaun yang mematikan. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 1449 M), intelektual muslim terkemuka yang sudah menulis puluhan kitab turut berduka karena ia kehilangan tiga putrinya akibat thaun: Fatimah, Aliyah, dan Zin Khatun si sulung yang bahkan sedang hamil. Apa yang dia lakukan? Menulis karya untuk menjaga nyawa sesama. Allahu Akbar! Al-Asqalani menulis kitab "Badzl al-Maun fi Fadhl al-Thaun". Dia jauh dari sikap "pasrah", menyerah kepada takdir Allah. Pandangan dan sikap beragamanya rasional.

Karya Al-Atsqalani telah di-tahqiq oleh Ahmad Ishom Abd al-Qadir al-Katib, yang mengulas dengan detail tentang thaun: definisinya secara metafisis dan medis, jenis-jenisnya termasuk Black Death di Eropa, pandangan ahli medis, cara menghindarinya, hukum syahid bagi korban, dan tentang bagaimana Muslim harus menyikapi wabah. Al-Asqalani bukan satu-satunya ulama besar yang terdampak thaun pandemic. Abu Aswad al-Duwali (w. 688 M), penggagas ilmu nahwu terkemuka, penemu titik dalam huruf hijaiyah, bahkan wafat akibat thaun. Inna lillahi  wa inna ilaihi raaji'un.

Fenomena di atas terebut adalah bukti bahwa wabah pandemic tidak mengenal agama, ras, usia, gender, dan kelas sosial. Kita pun perlu bersama melawan Corona. Saat ini, pemerintah sudah memutuskan bahwa Indonesia darurat bencana akibat Corona. Social distancing sudah diterjemahkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai "Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan bekerja di rumah". Berbagai tokoh agama sudah berijtihad menunda ritual agama, tapi bukan menunda beragama. Sejumlah aktivitas ritual pengumpulan massa baik di rumah ibadah maupun tempat sosial lainnya sementara waktu dihentikan—namun bukan berarti menghilangkan esensi kekhusyu'an beribadah kita. Inilah saatnya kita berjihad menyelamatkan nyawa  manusia dengan  tetap berdiam di rumah; guna menekan penyebaran virus corona ini.

Mari belajar dari sejarah, mari berguru dari para suhu masa lalu. Beragama yang paripurna bukan dengan cara mengabaikan keselamatan sesama, melainkan dengan menjaganya melalui berbagai cara; semampu kita. Dengan demikian esensi beragama bukan hanya symbol dan ritual semata; namun melampaui itu semua! Esensi bertauhid dan beragama ialah dengan menjaga keselamatan manusia. Wallahu a'lam.



Sumber: Republika.co.id
loading...